Ketika…….
Ketika
langit terasa seperti runtuh menimpa tubuh, pertolongan pertama yang perlu
dilakukan adalah ridha dengan segala ketetapan Allah yakni dengan memahami dan
menyadari bahwa semuanya terjadi atas izin-Nya, agar kita tidak terperangkap
dalam ratap dan tenggelam di dalam lautan keluh kemudian menyiapkan sikap
terbaik kita untuk menghadapinya. Jangan menjadi biasa karena menerima semua
ketetapan yg menurut kita tidak menyenangkan dengan segenap kesabaran, jadilah luar biasa dengan memilih syukur
sebagai sikap terbaik kita dalam menghadapinya. Hingga kita sanggup menjadikan semua
takdir dalam kehidupan kita sebagai tamu terbaik yang akan kita sambut dengan
cara terbaik, Karena perbedaan akan tetap menjadi perbedaan seperti takdir baik
dan buruk keduanya memang berbeda, namun saat kita menjadikan keduanya sebagai
tamu terbaik kita maka sikap kita ketika mendekap kepahitan akan sama mesranya
dengan sikap kita ketika menyambut kebahahagian.
Kebanyakan
kita mungkin mampu bersabar ketika berada dalam kesulitan dan bersyukur saat
mendapatkan kebahagiaan, tetapi akan lebih baik jika kita bersyukur ketika
mendapatkan musibah dan bersabar ketika mendapatkan kenikmatan. Sebut saja
kisah Salah satu sahabat di jaman rasulullah yang meminta di doakan untuk menjadi
kaya. Ketika miskin sahabat ini selalu mengikuti shalat berjamaah bersama
rasululllah namun setelah kaya, sering terlambat shalat berjamaah karena sibuk
mengurusi kekayaannya.
Sedikit
gambaran untuk kita bahwa kadang kita tidak mampu bersabar untuk terus
istiqamah menjaga ketaatan kita kepada sang khalik saat kita berada dalam
kesenangan. Bahkan sering suudzon dengan segala ketetapan-Nya yang buruk
menurut kita. Kita lupa bahwa Allah sangat menyayangi kita. Dia begitu dekat
dengan kita. Kita lah yang tidak pernah merasakan kehadiran-Nya, bahkan lupa
menghadirkan-Nya dalam setiap nafas yang kita hirup apalagi bersyukur atas
nikmat hidup yang kita reguk.
Kita
tidak pernah mengambil pelajaran dari pohon, batu, petir dan gunung-gunung yang selalu bertasbih
kepada pemiliknya. Kita terlalu sibuk menghitung-hitung nikmat yang kita terima tanpa
sedikitpun berpikir untuk mensyukurinya karena kita selalu
membanding-bandingkannya dengan nikmat yang diterima oleh orang lain, kita tidak pernah merasa
cukup, meski nikmat yang kita terima sudah tak terhitung jumlahnya. Pantaslah jika
Allah menegur kita dengan surat Ar-rahman agar kita berpikir dan mengambil
pelajaran…..tidak iri kah pada ketaatan sang matahari yang senantiasa tunduk
patuh menjalankan titah Rabbnya….tidak iri kah kepada daun, ranting-ranting
pohon dan gunung-gunung yang selalu bertasbih kepada pencipta-Nya, padahal
mereka tidak dikaruniai akal……………….
Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan…….?????????????????
