Minggu, 14 April 2013

KETIKA


Ketika…….
Ketika langit terasa seperti runtuh menimpa tubuh, pertolongan pertama yang perlu dilakukan adalah ridha dengan segala ketetapan Allah yakni dengan memahami dan menyadari bahwa semuanya terjadi atas izin-Nya, agar kita tidak terperangkap dalam ratap dan tenggelam di dalam lautan keluh kemudian menyiapkan sikap terbaik kita untuk menghadapinya. Jangan menjadi biasa karena menerima semua ketetapan yg menurut kita tidak menyenangkan dengan segenap kesabaran,  jadilah luar biasa dengan memilih syukur sebagai sikap terbaik kita dalam menghadapinya. Hingga kita sanggup menjadikan semua takdir dalam kehidupan kita sebagai tamu terbaik yang akan kita sambut dengan cara terbaik, Karena perbedaan akan tetap menjadi perbedaan seperti takdir baik dan buruk keduanya memang berbeda, namun saat kita menjadikan keduanya sebagai tamu terbaik kita maka sikap kita ketika mendekap kepahitan akan sama mesranya dengan sikap kita ketika menyambut kebahahagian.
Kebanyakan kita mungkin mampu bersabar ketika berada dalam kesulitan dan bersyukur saat mendapatkan kebahagiaan, tetapi akan lebih baik jika kita bersyukur ketika mendapatkan musibah dan bersabar ketika mendapatkan kenikmatan. Sebut saja kisah Salah satu sahabat di jaman rasulullah yang meminta di doakan untuk menjadi kaya. Ketika miskin sahabat ini selalu mengikuti shalat berjamaah bersama rasululllah namun setelah kaya, sering terlambat shalat berjamaah karena sibuk mengurusi kekayaannya.
Sedikit gambaran untuk kita bahwa kadang kita tidak mampu bersabar untuk terus istiqamah menjaga ketaatan kita kepada sang khalik saat kita berada dalam kesenangan. Bahkan sering suudzon dengan segala ketetapan-Nya yang buruk menurut kita. Kita lupa bahwa Allah sangat menyayangi kita. Dia begitu dekat dengan kita. Kita lah yang tidak pernah merasakan kehadiran-Nya, bahkan lupa menghadirkan-Nya dalam setiap nafas yang kita hirup apalagi bersyukur atas nikmat hidup yang kita reguk.
Kita tidak pernah mengambil pelajaran dari pohon, batu, petir dan gunung-gunung yang selalu bertasbih kepada pemiliknya. Kita terlalu sibuk menghitung-hitung nikmat yang kita terima tanpa sedikitpun berpikir untuk mensyukurinya karena kita selalu membanding-bandingkannya dengan nikmat yang diterima oleh orang lain, kita tidak pernah merasa cukup, meski nikmat yang kita terima sudah tak terhitung jumlahnya. Pantaslah jika Allah menegur kita dengan surat Ar-rahman agar kita berpikir dan mengambil pelajaran…..tidak iri kah pada ketaatan sang matahari yang senantiasa tunduk patuh menjalankan titah Rabbnya….tidak iri kah kepada daun, ranting-ranting pohon dan gunung-gunung yang selalu bertasbih kepada pencipta-Nya, padahal mereka tidak dikaruniai akal……………….

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan…….?????????????????