Kamis, 26 September 2013

PANTASKAH.....



Mahasuci Allah yang telah menciptakan semesta dengan segenap kesempurnaan dan keteraturannya. Tidak ada satupun yang luput dari pengawasannya bahkan isi hati yang tersembunyi. Susah, senang, tangis dan tawa akan selalu datang dan menghilang. Membentuk rangkaian yang tiada henti berganti. Tidak ada kata abadi dalam kehidupan yang kita jalani. Semua hal mempunyai ruang dan masa berlaku yang tak mungkin ditentang. Kau, aku dan alam raya ini. Bulan, bintang, pelangi dan hujan semua berjalan dalam keteraturan, tunduk dan patuh pada titah Rabbnya tanpa kata tidak atau enggan.

Lalu bagaimana dengan kita ??????

Kewajiban yang sesungguhnya untuk kebaikan dunia dan akhirat kita saja enggan melakukannya, bahkan kadang menolaknya dengan rasa congkak atau hanya kita lakukan dengan sisa-sisa tenaga dan waktu kita. Kita hampir tidak pernah menyediakan waktu untuk selalu berdua dengan-Nya, menghadirkan nama-Nya dalam setiap hembus nafas kita. Masih pantaskah  kita mengaku hamba-Nya ?????

Semunya dunia membuat kita lupa pada yang maha sempurna, pencipta alam semesta. Ego yang meraja dan nafsu angkara yang menguasai kepala mengalahkan ketundukan kita. Tidak malukah pada gunung-gunung, bulan, bintang, daun, ranting dan batang pepohonan ? mereka senantiasa bertasbih pada Rabbnya. Kehadirannya membawa manfaat untuk semesta raya. Lantas apa yang sudah kita lakukan sebagai makhluk berakal yang seharusnya bisa membawa manfaat yang lebih banyak untuk sesama dan semesta bukan merusaknya dengan kesombongan dan kecongkakan kita, bahkan untuk mensyukuri segala nikmat yang tak pernah putus kita nikmati saja kita lupa……saking congkaknya.

Luruhkanlah segala kesombongan karena memang tidak ada yang layak kita sombongkan, seluruh tubuh kita dipenuhi dengan kotoran, di seluruh permukaan kulit, di dalam kantung kemih, di dalam usus besar. Kemana-mana kita membawa kotoran. Tidak sadarkah ????? buanglah rasa congkak dan sombong itu jauh-jauh. Rendahkan hati dan tinggikan pekerti. Bukankah syetan di usir dari syurga juga karena kesombongannya ????


Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa ilam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunannaa minal khaasiriin..............................

Senin, 02 September 2013

CATATAN SEBUAH PERJALANAN



Sepi itu tidak berarti mati, ada kehidupan di sana meski yang terdengar hanya suara jangkrik dan gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Memang kecil, tapi ada. Karena kecil tidak berarti lemah dan tak berguna. Tidak ada hal besar yang tidak dimulai dengan hal kecil dan langkah keseribu pun tidak akan pernah ada tanpa ayunan langkah pertama. Setiap orang terlahir dengan sempurna, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukan untuk menjadi sombong dengan kelebihan yang dimilikinya, namun untuk membagi kelebihan itu dengan orang lain yang membutuhkan serta bukan untuk menjadi rendah diri karena kekurangan yang ada dalam diri kita, kekurangan itu hadir agar kita tidak pernah berhenti berusaha melengkapi kekurangan yang kita miliki dan terus mengoptimalkan potensi yang ada di dalam diri. Seperti pemandangan yang saya lihat malam ini, taman kunang-kunang. 

Malam belum terlalu pekat ketika ratusan kunang-kunang beterbangan di atas areal pesawahan yang saya lewati  memendar kerlip cahaya kemasan yang dibawanya. Pemandangan yang sering saya lihat semasa kecil, namun sudah sulit sekali di temukan saat ini, karena serbuan bahan kimia berbahaya dan penggunaannya yang membabi buta membuat komunitas  kunang-kunang () perlahan sirna. Kerlip Indah cahaya kunang-kunang tidak jelas terlihat dikala sendiri dan ketika mereka terbang bersama di atas gulita, pekatnya malam berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dipandang. Begitu juga dengan kita. Penduduk desa yang sederhana itu hadir melengkapi perjalanan hidup kita bukan untuk menjadi bulan-bulanan ego kita sebagai orang yang mempunyai kelabihan kesempatan, tenaga dan waktu untuk menimba ilmu lebih banyak dari mereka. Mereka adalah orang-orang yang memberikan kesempatan kepada kita agar ilmu yang kita pelajari menjadi sesuatu yang berguna. Mereka adalah orang-orang yang memberikan kesempatan kepada kita untuk mengamalkan ilmu yang kita terima di bangku kuliah. 

Sukses itu bukan ketika kita memegang jabatan penting di sebuah institusi atau perusahaan ternama, karena boleh jadi saat itu kita sedang merusak lingkungan dan masyarakat dengan ilmu yang kita miliki. sukses adalah ketika kita dekat kepada Allah dan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada orang lain dan lingkungan sekitar.