Awan hitam menggantung di garis langit
melingkup cakrawala yang tampak semakin gelap. Titik-titik gerimis terus
berjatuhan menemani sekumpulan orang yang sedang menunggu bus antar kota.
perlahan kuhempaskan tubuhku di atas bangku kayu yang terletak di emperan toko
tidak begitu jauh dari tempat penghentian bus. Sedikit senyum menghias wajahku
yang tampak semringah. Memendar titik-titik harap dari bola mata beningku yang
berbinar cerah.
Jam setengah enam sore bus yang
kutumpangi merangkak meninggalkan tempat pemberhentian sementara yang terletak
dibundaran jalan yang menghubungkan dua pusat perbelanjaan terbesar di kota
kelahiranku, K A R A W A N G, kota pangkal perjuangan yang belakangan sering disebut-sebut
sebagai lumbung padi jawa barat. “kota padi” begitulah sebutan lain untuk kota
kabupaten yang tidak pernah berhenti berhias diri itu. Di tempat inilah aku
tinggal, menghabiskan sebagian masa remajaku yang menyenangkan.
Titik-titik gerimis turun semakin
lebat, mencuci semua partikel debu yang setiap hari menggerogoti organ
pernafasan.
I am not an actor, I am not a star
And I don’t even have my own car
But I am hoping so much You’ll stay
Then you love me anyway….
‘I am not an actor’ milik group
musik asal Denmark itu mengalun dari vcd player yang terpasang di bagian depan
bus. Menemani sepanjang perjalananku menuju jati bening. Tanpa sadar kedua
bibirku bergerak mengikuti lirik lagu tersebut. lirik-lirik yang sudah delapan
tahun tidak kunyanyikan. Lirik-lirik yang sering aku gunakan untuk membantuku
mengungkapkan segenap perasaan. Lirik-lirik yang tidak akan pernah aku lupakan.
Perlahan kuhela nafas panjangku dalam-dalam ”wish you’re here, jil!” jeritku
dalam hati bayangan wajah jil memenuhi setiap sudut otakku.
Hari merangkak semakin gelap. Rona
merah keemasan yang membentang di langit barat pun sudah tidak terlihat. Sang
dewi malam perlahan menebar sayap kegelapan menggeser posisi raja siang yang
sudah hampir kelelahan.
Jilan abimanyu. Nama lengkap pria
yang biasa kupanggil jil.itu ia mahasiswa merchant marine college yang sejak
februari lalu tinggal di rumah kos yang sama denganku. wajah khas oriental jil
terlihat sangat beku seperti gunung salju yang bersuhu minus sekian derajat di
bawah nol. ia jarang sekali tersenyum, membuat wajah bermata minimnya yang
menawan terlihat semakin kelam. Gurat-gurat luka memancar dari sorat matanya
yang tajam. Sorot mata yang setiap saat siap mengoyak siapa saja yang mencoba
mengusik luka yang tengah ia sembunyikan.
Gemerlap lampu di gerbang tol
pondok gede sudah terlihat dikejauhan beberapa kilometer lagi ’bella utama’
yang kutumpangi tiba di gerbang tol itu. Separuh perjalanan sudah terlewat
menyisakan sepi yang melilit hingga kedasar hati. Gerimis putih tak juga
berhenti membawa anganku semakin larut dalam buai kenangan.
Jam setengah delapan malam aku tiba
di rumah kos. Wajah beku jil menghadangku di pintu gerbang.. “tidak biasanya
kau pulang malam….!” Ujarnya datar. Pria bertubuh jangkung itu berdiri kokoh
dihadapanku, bola mata beningnya mengamati wajahku dalam-dalam.
Perlahan kuangkat kepalaku ke
arahnya. Untuk sesaat pandangan kami bertemu. “iya…..!” jawabku pelan seraya
berlalu dari hadapan jil yang masih terdiam. Jil menghela nafasnya dalam-dalam lalu
menghembuskannya lagi perlahan “hhhhhh…!” desisnya pelan bola matanya mengikuti
aku hingga sosokku hilang dibalik pintu ruangan
Malam terus merambat
naik,menyisakan gelap disetiap sudut kota yang sudah sejak pagi dihantui
kemacetan. Semilir angin membawa serta deru mesin kendaraan yang terdengar
samar-samar dikejauhan. Perlahan kuhempaskan tubuhku diatas bale-bale bambu
yang ada dibalkon. Mencoba meluruhkan lelah yang mencengkeram seluruh ototku.
”tidak baik mengorbankan kepentingan sendiri untuk orang
lain….!” Suara bariton itu terdengar lembut ditelingaku.
Perlahan kuhadapkan wajahku ke arah
suara.” Aku tidak merasa seperti itu….!” Kataku. Sedikit rasa heran bertengger
dibenakku. Seorang jil yang biasanya acuh tak acuh tiba-tiba begitu peduli
padaku. “tapi…. kadang harus begitu!” Kataku lagi “untuk mendapatkan sesuatu
harus mengorbankan sesuatu….! seorang temanku bilang di dunia ini tidak ada
yang gratis dan tidak ada yang sia-sia…! jadi…kita tidak mungkin mendapatkan
sesuatu tanpa mengorbankan sesuatu yang lain”. jelasku. setitik harap melintas
dibenakku kulihat jil terdiam. Pandangannya menyapu jalanan yang mulai lengang
“benarkah? Apa semua orang di dunia
ini juga berfikir sepertimu? Lalu…?” jil menghentikan ucapannya. Bola mata
beningnya menatap jauh kedepan untuk beberapa saat ia kembali terdiam.
Gurat-gurat luka terpancar dimatanya.
“siapa dia, jil?” tanyaku pada jil
seraya mendaratkan tatapan lembutku di wajahnya.
jil menoleh, wajah khas orientalnya
sedikit terperangah “dia, siapa?” katanya seraya menghadapkan wajahnya
kearahku.
sekilas senyum terkembang disudut
bibirku “orang yang tidak pernah menghargai pengorbananmu!” kataku bola mata
bulatku mengamati wajah khas oriental milik jil yang terlihat semakin beku.
Jil tak menjawab, diamatinya
lekat-lekat wajahku yang tengah menatapnya. Untuk beberapa saat pandangan kami
beradu.
“seseorang yang pernah membuat hidupku lebih berwarna…!”kata
jil seraya mengalihkan pandanganya.
Kini giliran aku yang terdiam.
Sebait harap melayang dari benakku. ”pacarmu?” tanyaku pelan
jil menganggukkan kepalanya
perlahan “iya, sampai hari minggu lalu ia masih pacarku…!” katanya tak kalah
pelan dari suaraku. untuk beberapa saat aku dan jil terdiam. hening kembali
merambati tempat itu
“kalau kau mau….. kau bisa membagi
dukamu denganku….!” Ujarku. sedikit ragu menggelayuti perasaanku. Aku takut jil
tersinggung oleh perkataanku yang so’ kenal so’ dekat itu.
jil memutar kepalanya ke arahku sudut bibirnya mengembang
membentuk senyuman.”thankyou, tapi…”
“tidak apa-apa! Aku tahu aku tidak
seharus….”
“dia pergi dengan pria lain!” Tukas
jil cepat “dia bilang dia sudah menemukan seseorang yang bisa membuatnya
bahagia, seseorang yang bisa memahami keinginannya….seseorang…..” sejenak jil
terdiam “seseorang yang bisa mencintainya dengan sempurna! ”suara jil terdengar
semakin berat pandangannya kosong menatap jauh kedepan.
Untuk sesaat aku terkesiap. Bola
mata bulatku tertarik beberapa sentimeter ke belakang aku sama sekali tidak
menyangka luka hati pria berparas menawan itu begitu mendalam
“bodoh sekali wanita itu! Setahuku
didunia ini tidak ada yang sempurana….benarkah ada orang yang bisa mencintai
orang lain dengan sempurna….” umpatku dalam hati, bola mata bulatku mengamati
wajah manis jil yang sedang termangu sejumput haru melintas dibenakku.
“dia benar-benar membuatku merasa
tidak berharga….! semua hal yang aku lakukan untuknya sepertinya sia-sia!”
lanjut jil bilur-bilur kecewa memenuhi wajahnya.
“hilang tidak berarti tidak bisa
ditemukan dan pergi tidak berarti tidak mungkin kembali…..! setidaknya kau
masih bisa berharap dia kembali padamu” kataku titik-titik haru membayang
dimataku. satu per satu Jejak-jejak kenangan masa laluku melintas dibenakku
seperti rekaman film yang tengah diputar ulang.dalam memoryku.
“tidak! dihatiku sudah tidak ada
lagi tempat untuknya…..!” sergah jil mencoba menyembunyikan resah yang
menggelayuti perasaannya.
“kau masih menyukainya, kan?”
kataku lagi-lagi tatapan lembutku mendarat diwajah khas oriental milik jil.
Jil balas menatapku “kenapa
berfikir seperti itu?” katanya, kemudian. Diamatinya wajahku dalam-dalam.
Perlahan kualihkan pandanganku dari
wajah jil menatap angkasa malam yang bertabur bintang-gemintang. “kata orang
batas antara cinta dan benci itu tipis sekali…! bahkan seorang psikolog amerika
bilang cinta dan benci merupakan emosi yang berjalan bersama bukan penghayatan
emosi dari dua kutub yang berlawanan…! Jadi saat kau mengatakan menyesal pernah
mencintai dia sebenarnya kau sedang berkata kalau kau merindukannya. Benar,
kan, jil? “ aku mengarahkan wajahku menghadap jil
“tidak…!” tukas jil cepat luapan
dendam terpancar dimatanya “tidak semua teori yang kau ungkapkan itu
benar….!”katanya lagi, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya ”ada banyak
hal yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan ucapan termasuk cinta dan
benci…satu hal lagi, kau juga harus tahu tidak semua maksud baik akan
membuahkan kebaikan karena tidak semua orang bisa memahami maksud baik kita.”
Lanjut jil. Bola mata minimnya menyapu jalanan yang tampak semakin lengang.
Sejenak aku termangu ucapan jil
mengingatkan aku pada rentetan masa laluku yang ingin sekali aku lupakan, bau
wangi khas bunga angsana, cicitan burung gereja,dan semua hal tentang Ryan.
Angin malam berhembus perlahan
mengacak-acak rambutku yang kubiarkan tergerai tak beraturan.
“wi…wia! Kemari sebentar…!” suara
nyaring itu memecah kesunyian.serentak aku dan jil menoleh ke arah suara, sosok
wanita setengah baya menyembul di ujung tangga menuju balkon. Dengan dialek
khas maduranya ia memintaku membantunya membuat wedang jahe
“iya, bu!” kataku seraya
menghampiri wanita itu. Jil mengikuti aku dari belakang.
Suaranya memang sedikit keras tapi
wanita yang usianya tak jauh beda dengan ibuku itu amat sangat baik, asal tidak
melanggar peraturan kos tidak mungkin ada masalah dengannya.
“kau suka wedang jahe, jil?” tanya
wanita paruh baya itu sambil terus berjalan menuruni anak tangga. usianya sudah
hampir setengah abad, tapi tubuhnya masih terlihat bugar, jalannya tegak dan
rambutnya sama sekali belum beruban.
“suka, bu!’ jawab jil tenang
“kalau kau…?” tanyanya seraya
menyejajarkan langkahnya disebelahku.
Kulirik jil dengan ekor mataku.
Sedikit senyum mengembang disudut bibirku.”minuman favorit, apalagi kalau
wedang jahenya ditambah sedikit santan dan kolang-kaling …! rasanya tidak akan
pernah ada kata tidak untuk minuman kaya manfaat itu ” jelasku ringan.
“apa namanya , wi? Ibu lupa…! Ba…
ba, apa, yah?” tanya ibu kosku menyela pembicaraanku dengan jil
“bajigur, bu!” kataku, senyum lebar
menghiasi bibirku.
“iya, bajigur….!seru ibu kosku
girang “kapan-kapan kau juga harus nyoba bajigur buatan wia, jil!” ujarnya lagi
jil melempar senyum termanisnya
kearahku “sepertinya saya sangat beruntung, bu! Tidak perlu menunggu lama untuk
mencoba bajigur buatan wia,” katanya seraya menghempaskan tubuhnya disamping
ibu kos yang sedang merajang gula merah.
“boleh, tapi bayar!” sergahku cepat
kedua tanganku sibuk mengaduk-aduk rebusan santan
jil menghadapkan wajahnya kearahku
“aku tahu…! di dunia ini tidak ada yang gratis dan tidak ada yang sia-sia”
katanya menirukan ucapanku waktu di balkon. Lagi-lagi senyum manisnya
terkembang.
Sesaat aku terhenyak malam ini aku
menemukan siisi lain jil yang tersembunyi di balik wajah manisnya yang beku.
“ini…pertama kalinya aku minum
bajigur! “ kata jil seraya menempatkan tubuhnya di sebelah tempat dudukku.
“untuk pertama kalinya juga aku bisa berbagi beban dengan orang lain….! lega
sekali!” katanya lagi tangan kanannya sibuk memainkan sendok yang ia gunakan
untuk menyendok kolang-kaling dari dalam gelasnya.
“itulah gunanya teman..!” kataku
sambil menyendok kolang-kaling terakhirku dari dalam gelas.
Jil tersenyum diamatinya wajahku
dalam-dalam “terima kasih sudah menjadi temanku malam ini!” ujarnya lirih
Perlahan kuputar wajahku menghadap
jil. “kau tidak apa-apa, jil?” tanyaku padanya. Bola mata bulatku balas
mengamati wajah pria bertubuh jangkung itu. mata minimnya tampak lebih berbinar
secerah langit malam yang bertabur bintang. Ia tak lagi beku seperti gunung es
berjalan.
“tidak…!” jawabnya pelan seraya
bangkit dari tempat duduknya ”thanks for all you’ve given!” katanya lagi sesaat
sebelum beranjak meninggalkan teras depan.
“aku suka jil yang seperti ini!”
seruku tertahan.
Langkah panjang jil sejenak
terhenti, memutar seluruh badannya kearahku dan tersenyum. Senyum termanis yang
selama ini bersembunyi dibalik wajah khas orientalnya yang dingin.
“saat tersenyum kau tampak lebih
manis…!” kataku lagi.
Untuk beberapa saat jil terdiam
diamatinya wajahku dalam-dalam “benarkah?” ujarnya pelan.
Perlahan aku mengangguk “iya…!”
kataku seraya bangkit dari tempat dudukku “aku tidak bohong!” kataku lagi
“teman sejati itu cermin diri, jil! jadi, tidak mungkin bohong?! ” lanjutku
sesaat sebelum bergerak mendahului jil masuk rumah.
“maksudmu?” tanya jil tubuh
jangkungnya bergerak membuntuti aku dari belakang
“cermin selalu menampakkan apa yang
ada dihadapannya, tidak pernah bohong…! begitu juga teman sejati, ia mampu
mengatakan kebaikan dan keburukan temannya dengan jujur!” jelasku
Sejenak jil terdiam. pandangannya
mengikuti aku hingga sosokku menghilang di balik pintu kamar “have a nice
dream!” ujarnya terdengar samar-samar dari balik pintu kamarku yang baru saja
kututup rapat.
Malam bergerak semakin larut jam
dinding yang tergantung di tembok kamarku sudah menunjuk angka sepuluh saat aku
mencoba merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
“good night, jil!” gumamku pelan.
mataku menerawang menembus langit-langit kamarku yang temaram.
-ỘộỘ-



