Purnama Terakhir
Papandayan, pesona yang sulit terlupakan, ketika kilau
cahaya jingga berpadu dengan tanah kapur berwarna putih menambah eksotisme
hutan mati yang terkesan mistis. Deretan pohon yang menghitam adalah bukti
hebatnya erupsi papandayan ratusan tahun silam. Tegap menatap cakrawala hingga
sekarang walau masa tak lagi muda menyambut senja yang memudar di ambang malam.
Gelap perlahan mendekap menebar hawa dingin dalam
balutan kabut yang mulai tak bersahabat. Sesekali gemerisik dedaunan mengiringi
derap langkah yang mulai lunglai. Jalur berbatu, medan menanjak cukup menguras
sisa-sisa tenaga yang terserap dinginnya hawa, namun seketika sirna kala samar dikejauhan
hutan edelweiss menyambut hangat. Rimbunnya semak-semak hijau menyanding
kuncup-kuncup bunga cinta abadi yang melegenda.
Kuhela nafas panjangku dalam-dalam seraya
menghembuskannya kembali perlahan. Ada resah yang tiba-tiba menyelinap. Kau dan
senyum manismu kembali mengusik nurani. "rasa bersalahku benar-benar membutku
lelah, Sen…..!!" gumamku seraya
menghempaskan tubuhku diantara semak-semak edelweiss yang tiada henti bergerak
mengikuti tarian angin. Sejenak kupejamkan mataku. Mencoba mengikis senyummu
dari benakku. "kau kenapa, Vi?" bisik Laras mengoyak sepinya malam.
Perlahan kubuka mataku, pandanganku mengarah pada
lingkaran purnama yang berada tepat diatasku. sempurna. "tidak apa-apa…." Hanya
sedikit lelah lirihku seraya menahan tangis yang menyesak dikerongkonganku. Hening
kembali merambati tempat itu. Bahkan udara dingin yang menggigilkanku seolah
memberi ruang kepada otakku untuk memutar kembali jejak-jejak kenanganmu. Serentak anganku berkelana menembus
sudut-sudut imaji yang terpisah dimensi ruang dan waktu dan kini membawaku
kembali pada peristiwa memilukan itu
saat racun belerang merenggut kesadaranmu, melemahkan tubuhmu dan akhirnya
merenggut kehidupanmu. "maafkan aku..." lirihku seraya mengusap butiran bening
yang meleleh disudut-sudut mataku. Sayup dikejauhan jerit serangga malam terdengar
pilu. Menembus kabut tebal yang perlahan
menutupi pandangan. Gerimis putih pun turun perlahan memperburuk jarak pandang.
Malam beranjak semakin pekat ketika kutinggalkan hutan
edelwiess terluas di nusantara itu diiringi titik-titik hujan yang turun semakin
lebat. Perjalanan menuju puncak terasa semakin berat. Tanjakan-tanjakan curam
menembus rapatnya hutan pepohonan serta mulut jurang yang menganga di sepanjang
jalan setapak.
Sudah hampir subuh ketika aku, Laras, Rei, Evan dan Tyan
tiba dipuncak. Luasnya Tegal Alun, kompleks kawah yang megah, dan Pondok
Saladah di balik bukit di kejauhan terasa tak
seindah dulu. Semua terasa kosong. Seperti angin yang berhembus melambungkan
kabut. Tanpamu. Perlahan kutebarkan pandanganku ke arah pondok saladah.
"sepertinya pendakian terindahku akan segera dimulai…" katamu seraya menyeruput coklat panas yang baru saja kau tuang. Evan dan Tyan
mengolokmu dari depan tendanya sementara aku hanya terdiam. Bola mata bulatku
mengarah pada keindahan bukit yang berpadu dengan harmonisasi edelweiss dan
hutan cantigi yang terlihat segar.
"aku tidak tahu kapan bisa mengajakmu lagi
kesini….yang jelas akan kupastikan kau benar-benar menikmati pendakianmu…" katamu kemudian seraya menghabiskan coklat panasmu.
Perlahan kualihkan pandanganku, kutatap lekat-lakat
bola mata beningmu. "akan kuberitahu cara lain
menikmati keindahan purnama…." Katamu lagi. Sudut bibirmu mengembang
membentuk senyuman.
Sebenarnya aku ingin sekali menghadiahkan kuntum-kuntum
edelweiss itu….. tapi tidak bisa. Lanjutmu seraya melirikku dengan ekor matamu.
Aku tetap bergeming…..hanya sesekali senyum kecil meluncur dari bibirku
menimpali beberapa ucapan konyolmu.
"Kau tahu… jarak hidup dan mati itu dekat sekali…. " Katamu setelah beberapa saat terdiam. Sejenak aku terhenyak ucapanmu barusan
membuatku sedikit tergeragap. Tiba-tiba saja kau berbicara tentang kematian.
Mati memang hak setiap orang dan pasti terjadi pada siapapun, tetapi membicarakannya di sini, saat ini bagiku terdengar mengerikan. "kau berlebihan sekali, Sen" gumamku dalam hati seraya mengamati wajah tirusmu lekat.
Kulihat kau tersenyum, lalu bangun dari dudukmu "ikuti
aku…. akan kutunjukkan spot terindah di gunungn ini" katamu seraya berlalu dari hadapanku.
"sudah hampir malam…. Kabut semakin tebal konsentrasi
belerang juga akan semakin meningkat… tidak baik kalau kita terus memaksa ke puncak….
Kataku berusaha menghentikanmu.
"tidak apa-apa… hanya sebentar….." kilahmu ringan
Purnama… bulatannya penuh. Sempurna. Menyembul di ufuk
timur. Cahaya merah keemasan serentak menerangi hutan edelweiss yang membeku.
Dingin terasa menusuk hingga ke dasar tulang. Tegal alun tampak begitu lengang,
angin malam bertiup perlahan menambah dingin suasanan padang bunga cinta abadi
terluas di nusantara itu.
Aroma belerang tercium semakin kuat, terasa seperti
menempel pada lapisan kabut. Nafasku mulai sesak. Aku ingin menghentikanmu tapi
sungguh tak sanggup, rasa sesak semakin menguasaiku. Suaramu terdengar sayup. Berpendar
diantara kilauan purnama yang memantul diantara riak air danau tegal alun "Sen….' Aku berusaha memanggilmu tapi suaraku terlampau lemah "maaf…" kataku seraya menatap bagian belakang tubuhmu yang bergerak menjauh sebelum
akhirnya terkulai. Tidak sadarkan diri.
Kepalaku terasa berat. Beragam suara memenuhi indera pendengaranku
menyatu dengan isak tangis yang entah dari mana datangnya. Perlahan kubuka bola
mataku. Kutatap Laras yang terduduk lesu disamping tubuhku. Matanya sembab,
sisa-sisa air mata masih mengenang di kelopak matanya. "Ras, ada apa?" Tanyaku
padanya. Laras tak menjawab…tangisnya kembali membuncah.
Aku berusaha bangkit sambil kembali bertanya pada Laras.
Laras tetap tak menjawab tangisnya tak jua berhenti. "Ras, sena mana?" tanyaku
lagi…. Seraya memutarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Pos II terasa amat
sangat gaduh. Entah apa yang terjadi di ruangan sebelah sana. Aku berusaha
bangkit lalu berjalan keluar. Menyeruak
ditengah kerumunan. Rasanya kakiku tak lagi menginjak bumi ketika bola mata
bulatku terhenti pada sosokmu yang tergeletak lunglai. "Sena….." pekikku
tertahan seraya berhambur kearahmu. Dengan sisa-sisa tenagamu kau lemparkan senyum
kearahku……"maafkan aku…" katamu sesaat sebelum matamu tertutup.
Fajar pagi menyingsing di ufuk timur, mengurai kabut
yang pekat membalut. "Vi… kita pulang…..!!!" bisik Laras membuyarkan semua lamunanku.
Aku mengangguk…. “Iya…” kataku. Sambil bergegas menuruni jalan setapak yang
basah oleh tetesan embun. Seperti tetesan air mata yang terus memaksa keluar
dari sudut-sudut mataku. Setelah hampir tiga jam menyusuri lebatnya hutan, trek
berubah kekuningan. Hamparan savanna tegal panjang menyambut dikejauhan. Padang
ilalang seluas 46. 831 hektar itu terlihat sunyi, tersembunyi di antara
tingginya pegunungan. Disebelah utara gunung Kondang menantang untuk ditaklukkan,
Gunung puntang dan gunung Papandayan tegap berdiri disebelah selatan serta
gunung Jaya yang tampak gagah mengantar senyum di sebelah timur.
Lagi-lagi
kuseka butiran bening yang meleleh disuudut-sudut mataku. Jejak-jejak
kenanganmu terangkai amat sangat jelas dipelupuk mataku. Aku sering menyandera
kameramu disini untuk mendapatkan foto-foto galaksi dan milyaran bintang disaat
malam. Aku sangat tahu mengapa kau membawaku ke hutan edelweiss malam itu. Karena
aku pernah mengatakan padamu bahwa purnama ditengah riak air dan bunga adalah surga
bagi para pecinta kedua hal tersebut dalam bidikan kamera.
"Maafkan aku, Sena…." Lirihku dalam hati seraya
memutarkan pandanganku mengelilingi hamparan ilalang yang tengah mengusung
bunga. Gemeriisik daun-daun runcingnya menghadirkan melodi yang selamanya akan
selalu kurindu.
Terima kasih duhai embun yang telah meluangkan waktu
untuk turun menyapa resah yang tak berujung, ketika sekumpulan awan memilih
asyik bermain dengan dunianya sendiri. Walau tak banyak waktu yang kita miliki
karena sang matahari merenggutmu lebih cepat dari kerjapan mimpi. Terima kasih
untuk kenangan yang kau ukir….. karena hari ini tak mungkin lagi kutemui
buliran embun kemarin.