Kamis, 14 September 2017


Dimensi  Ilusi


Distorsi
membawamu pada galaksiku
Menembus ruang
Mengubah gelombang dimensi
Mungkinkah semua  terulang?
Kecepatan cahaya, jarak antar ruang
Dan lompatan waktu  yang terhubung satu sama lain

Bintang angkasa
dimana kah planet itu kini?
Sanggupkah energi lontar mengantarnya mengulang kisah
Walau tak panjang
Menguak tabir rahasia
Penciptaan semesta yang mengagumkan
bukan dugaan sementara tanpa dasar

Namun,
aku sungguh berharap adamu  nyata
Tak hanya ilusi ruang








Sepercik Rasa


Peraduan rindu adalah senyap
Tempat dimana gulita tak mampu memeluk cahaya
Gelombang bunyi tak bisa bertemu udara
Dan untaian kata tak sanggup mendekap makna
Tercekat dalam asa
Ketika raga terentang jarak
Hingga mata tak dapat saling menatap
Sapa tak kuasa melepas rasa
Hanya bisa melabuh harap
Dalam lantunan syahdu selaksa do'a
Untukmu,
Sosok mempesona yang tak terindera
Perangkai asa tak tereja









Senin, 20 Februari 2017


PENGGADAI IMAN


tidakkah kau tahu
resah ini tentangmu
meluas
selangit biru
ketika mimpi tak lagi tegak berdiri
digaris yang kau patri
mati
terbunuh arogansi

bagimu,
mungkin harta memuliakan
karenanya jumawa mengakar
bagimu,
mungkin gelar membanggakan
karenanya kau sombongkan
hingga cela dan hina menjadi legal
pada siapa saja yang menentang
itukah teladan?
ketika kuasa ditangan

namun, 
kau tetap diam
dalam opini tak berdasar
olokan tak elegan
bahkan agama yang dinistakan
tak membuatmu sadar
bukan pembelaan yang terlontar
gurau lah yang kau umbar
itukah prinsip yang kau perjuangkan?

lalu,
dimana nuranimu kau buang
sejak kapan imanmu tanggal
tidakkah bagimu quran hanya sekedar tulisan?
keyakinan yang tak pernah erat kau genggam


Selasa, 14 Juni 2016

belajar membuat cerpen lagi :)

Purnama Terakhir

Papandayan, pesona yang sulit terlupakan, ketika kilau cahaya jingga berpadu dengan tanah kapur berwarna putih menambah eksotisme hutan mati yang terkesan mistis. Deretan pohon yang menghitam adalah bukti hebatnya erupsi papandayan ratusan tahun silam. Tegap menatap cakrawala hingga sekarang walau masa tak lagi muda menyambut senja yang memudar di ambang malam.
Gelap perlahan mendekap menebar hawa dingin dalam balutan kabut yang mulai tak bersahabat. Sesekali gemerisik dedaunan mengiringi derap langkah yang mulai lunglai. Jalur berbatu, medan menanjak cukup menguras sisa-sisa tenaga yang terserap dinginnya hawa,  namun seketika sirna kala samar dikejauhan hutan edelweiss menyambut hangat. Rimbunnya semak-semak hijau menyanding kuncup-kuncup bunga cinta abadi yang melegenda.

Kuhela nafas panjangku dalam-dalam seraya menghembuskannya kembali perlahan. Ada resah yang tiba-tiba menyelinap. Kau dan senyum manismu kembali mengusik nurani. "rasa bersalahku benar-benar membutku lelah, Sen…..!!" gumamku  seraya menghempaskan tubuhku diantara semak-semak edelweiss yang tiada henti bergerak mengikuti tarian angin. Sejenak kupejamkan mataku. Mencoba mengikis senyummu dari benakku. "kau kenapa, Vi?" bisik Laras mengoyak sepinya malam.

Perlahan kubuka mataku, pandanganku mengarah pada lingkaran purnama yang berada tepat diatasku. sempurna. "tidak apa-apa…." Hanya sedikit lelah lirihku seraya menahan tangis yang menyesak dikerongkonganku. Hening kembali merambati tempat itu. Bahkan udara dingin yang menggigilkanku seolah memberi ruang kepada otakku untuk memutar kembali jejak-jejak kenanganmu.  Serentak anganku berkelana menembus sudut-sudut imaji yang terpisah dimensi ruang dan waktu dan kini membawaku kembali  pada peristiwa memilukan itu saat racun belerang merenggut kesadaranmu, melemahkan tubuhmu dan akhirnya merenggut kehidupanmu. "maafkan aku..." lirihku seraya mengusap butiran bening yang meleleh disudut-sudut mataku. Sayup dikejauhan jerit serangga malam terdengar pilu. Menembus kabut tebal  yang perlahan menutupi pandangan. Gerimis putih pun turun perlahan memperburuk jarak pandang.

Malam beranjak semakin pekat ketika kutinggalkan hutan edelwiess terluas di nusantara itu diiringi titik-titik hujan yang turun semakin lebat. Perjalanan menuju puncak terasa semakin berat. Tanjakan-tanjakan curam menembus rapatnya hutan pepohonan serta mulut jurang yang menganga di sepanjang jalan setapak.

Sudah hampir subuh ketika aku, Laras, Rei, Evan dan Tyan tiba dipuncak. Luasnya Tegal Alun, kompleks kawah yang megah, dan Pondok Saladah di balik bukit di kejauhan terasa tak seindah dulu. Semua terasa kosong. Seperti angin yang berhembus melambungkan kabut. Tanpamu. Perlahan kutebarkan pandanganku ke arah pondok saladah.
"sepertinya pendakian terindahku akan segera dimulai…" katamu seraya menyeruput coklat panas yang baru saja kau tuang. Evan dan Tyan mengolokmu dari depan tendanya sementara aku hanya terdiam. Bola mata bulatku mengarah pada keindahan bukit yang berpadu dengan harmonisasi edelweiss dan hutan cantigi yang terlihat segar.
"aku tidak tahu kapan bisa mengajakmu lagi kesini….yang jelas akan kupastikan kau benar-benar menikmati pendakianmu…" katamu kemudian seraya menghabiskan coklat panasmu. 

Perlahan kualihkan pandanganku, kutatap lekat-lakat bola mata beningmu. "akan kuberitahu cara lain  menikmati keindahan purnama…." Katamu lagi. Sudut bibirmu mengembang membentuk senyuman.
Sebenarnya aku ingin sekali menghadiahkan kuntum-kuntum edelweiss itu….. tapi tidak bisa. Lanjutmu seraya melirikku dengan ekor matamu. Aku tetap bergeming…..hanya sesekali senyum kecil meluncur dari bibirku menimpali beberapa ucapan konyolmu.

"Kau tahu… jarak hidup dan mati itu dekat sekali…. " Katamu setelah beberapa saat terdiam. Sejenak aku terhenyak ucapanmu barusan membuatku sedikit tergeragap. Tiba-tiba saja kau berbicara tentang kematian. Mati memang hak setiap orang dan pasti terjadi pada siapapun, tetapi membicarakannya di sini, saat ini bagiku terdengar mengerikan. "kau berlebihan sekali, Sen" gumamku dalam hati seraya mengamati wajah tirusmu lekat.

Kulihat kau tersenyum, lalu bangun dari dudukmu "ikuti aku…. akan kutunjukkan spot terindah di gunungn ini"  katamu seraya berlalu dari hadapanku.
"sudah hampir malam…. Kabut semakin tebal konsentrasi belerang juga akan semakin meningkat… tidak baik kalau kita terus memaksa ke puncak…. Kataku berusaha menghentikanmu.
"tidak apa-apa… hanya sebentar….." kilahmu ringan

Purnama… bulatannya penuh. Sempurna. Menyembul di ufuk timur. Cahaya merah keemasan serentak menerangi hutan edelweiss yang membeku. Dingin terasa menusuk hingga ke dasar tulang. Tegal alun tampak begitu lengang, angin malam bertiup perlahan menambah dingin suasanan padang bunga cinta abadi terluas di nusantara itu.

Aroma belerang tercium semakin kuat, terasa seperti menempel pada lapisan kabut. Nafasku mulai sesak. Aku ingin menghentikanmu tapi sungguh tak sanggup, rasa sesak semakin menguasaiku. Suaramu terdengar sayup. Berpendar diantara kilauan purnama yang memantul diantara riak air danau tegal alun "Sen….' Aku berusaha memanggilmu tapi suaraku terlampau lemah "maaf…" kataku seraya menatap bagian belakang tubuhmu yang bergerak menjauh sebelum akhirnya terkulai. Tidak sadarkan diri.

Kepalaku terasa berat. Beragam suara memenuhi indera pendengaranku menyatu dengan isak tangis yang entah dari mana datangnya. Perlahan kubuka bola mataku. Kutatap Laras yang terduduk lesu disamping tubuhku. Matanya sembab, sisa-sisa air mata masih mengenang di kelopak matanya. "Ras, ada apa?" Tanyaku padanya. Laras tak menjawab…tangisnya kembali membuncah.
Aku berusaha bangkit sambil kembali bertanya pada Laras. Laras tetap tak menjawab tangisnya tak jua berhenti. "Ras, sena mana?" tanyaku lagi…. Seraya memutarkan pandangan ke seluruh ruangan. 

Pos II terasa amat sangat gaduh. Entah apa yang terjadi di ruangan sebelah sana. Aku berusaha bangkit lalu berjalan keluar.  Menyeruak ditengah kerumunan. Rasanya kakiku tak lagi menginjak bumi ketika bola mata bulatku terhenti pada sosokmu yang tergeletak lunglai. "Sena….." pekikku tertahan seraya berhambur kearahmu. Dengan sisa-sisa tenagamu kau lemparkan senyum kearahku……"maafkan aku…" katamu sesaat sebelum matamu tertutup.

Fajar pagi menyingsing di ufuk timur, mengurai kabut yang pekat membalut. "Vi… kita pulang…..!!!" bisik Laras membuyarkan semua lamunanku. Aku mengangguk…. “Iya…” kataku. Sambil bergegas menuruni jalan setapak yang basah oleh tetesan embun. Seperti tetesan air mata yang terus memaksa keluar dari sudut-sudut mataku. Setelah hampir tiga jam menyusuri lebatnya hutan, trek berubah kekuningan. Hamparan savanna tegal panjang menyambut dikejauhan. Padang ilalang seluas 46. 831 hektar itu terlihat sunyi, tersembunyi di antara tingginya pegunungan. Disebelah utara gunung Kondang menantang untuk ditaklukkan, Gunung puntang dan gunung Papandayan tegap berdiri disebelah selatan serta gunung Jaya yang tampak gagah mengantar senyum di sebelah timur. 

Lagi-lagi kuseka butiran bening yang meleleh disuudut-sudut mataku. Jejak-jejak kenanganmu terangkai amat sangat jelas dipelupuk mataku. Aku sering menyandera kameramu disini untuk mendapatkan foto-foto galaksi dan milyaran bintang disaat malam. Aku sangat tahu mengapa kau membawaku ke hutan edelweiss malam itu. Karena aku pernah mengatakan padamu bahwa purnama ditengah riak air dan bunga adalah surga bagi para pecinta kedua hal tersebut dalam bidikan kamera.
"Maafkan aku, Sena…." Lirihku dalam hati seraya memutarkan pandanganku mengelilingi hamparan ilalang yang tengah mengusung bunga. Gemeriisik daun-daun runcingnya menghadirkan melodi yang selamanya akan selalu kurindu.


Terima kasih duhai embun yang telah meluangkan waktu untuk turun menyapa resah yang tak berujung, ketika sekumpulan awan memilih asyik bermain dengan dunianya sendiri. Walau tak banyak waktu yang kita miliki karena sang matahari merenggutmu lebih cepat dari kerjapan mimpi. Terima kasih untuk kenangan yang kau ukir….. karena hari ini tak mungkin lagi kutemui buliran embun kemarin.

Senin, 14 Desember 2015


BULAN


Pucat wajahmu
Di belantara malam
Sendirian
Menjalani takdir
yang bergulir menapak jaman
Melawan kelam
Serta kemelut awan
Dalam ketundukan
Tanpa keluh
Pun ragu
Merentang cahaya
Menghalau gulita
Hingga  sang fajar datang
 membentang sinar






sumber foto : google

Kamis, 26 November 2015


HUJAN


Buliran beningmu kembali menyapa
Mengiring desir angin
dalam amuk resah gemintang
Padanya yang tak mampu menghalau awan
Padanya yang enggan menyembunyikan hujan
nan anggun,
menggantung dipelupuk malam
Menahan cahaya dalam kelam
Menyelipkan rindu
pada rinaimu yang lama tak kudengar
Menyapa kerontang
Mengusir gersang yang meradang








sumber foto : google

Rabu, 21 Oktober 2015


UNTUK SENYAP


Enyahlah wahai gelap
Pekatmu tak ingin lagi ku dekap
Aku muak
Dengan lagumu yang berubah sendu
Dengan egomu yang tak pernah lalu
Kau tahu.....?
Lautmu kini tak lagi biru
gunungmu tak lagi anggun
 Bahkan parasmu tak lagi dirindu
Dan hadirmu tak lagi disanjung
Karena mata, telinga pun hatimu terkurung nafsu
Sirna sudah apa yang pernah kau lihat, kau dengar dan kau rasa
Merenggut senyum dari bibir-bibir yang lama terkatup
Menahan keluh
bersama  lenyapnya aroma harap
Dari lereng-lereng kerontang
Serta hening yang terbang bersama angin
Aku menunggumu berpaling
Pada janji  yang dahulu terucap
Pada tekad yang gegap kau dekap
Pada senyap yang diam-diam beranjak
Beralih bising
Menggigit hening
Di kotamu yang dahulu senyap