Minggu, 30 Agustus 2015


TENTANG RINDU 


Ketika waktu tak mampu lagi memelukmu
Merentang jarak yang teramat jauh
Hanya untaian pinta yang mewakili sapa
Serta harap yang tak pernah lenyap
Tentang esok,
Dan sedikit resah yang enggan beranjak
Menatapmu
Dalam hening pagi
merambati cerita berbingkai biru  
Itulah rindu
Yang tiada henti terutus




sumber foto : google

Sabtu, 15 Agustus 2015

MEMORIES OF AUGUST 14TH

Hidup itu seperti cahaya. Setiap orang  memberikan warna tersendiri dalam kehidupan orang lain sesuai panjang gelombang yang mampu diserapnya. Ada kalanya intensitas cahaya me-ji-ku-hi-bi-ni-u (monokromatik) mencapai intensitas maksimum sehingga warna putih lah yang terlihat dan ada kalanya intensitas warna monokromatik itu mencapai titik nol sehingga warna hitam yang kemudian tampak. Begitu pula hakikat Allah menciptakan keburukan, bukan merupakan bagian dari ketentuan yang harus kita pilih, keburukan itu diciptakan untuk mempertegas kebaikan sehingga kita yakin bahwa hal yang kita pilih itu baik karena ada hal buruk sebagai pembanding yang mempertegas baiknya sebuah kebaikan.

Sama halnya dengan  hitam dan putih. Kita bisa menyebutnya hitam karena ada putih, kita bisa menyebut merah karena ada warna hijau, biru, ungu dan warna-warna yang lain. Masing-masing warna mempunyai kemampuan dan peran yang berbeda-beda. Begitu pun manusia, memiliki kadar kemampuan dan cara berpikir yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menilai kemampuan orang lain dengan cara berpikir kita. Karena ukuran kita tidak akan cocok ketika kita terapkan kepada orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menempatkan orang lain bukan penilaian kita terhadap orang lain. Cara kita memperlakukan orang lain akan mencerminkan kelas kita dihadapan sang pencipta.

Tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan nuraninya demi gengsi, merendahkan orang lain agar terlihat hebat di hadapan manusia yang lain, menjual kejujuran untuk menutupi kesalahan  bahkan bersembunyi dibalik kelemahan orang lain demi citra baik dalam pandangan rekan sejawat, atasan atau koleganya. Akan selalu ada manusia dengan perangai seperti itu dimana pun kita berada, namun bukan alasan  untuk kita menjadi pembenci. Bukankah Allah lebih menyukai orang-orang yang memaafkan bahkan ketika ia mampu untuk membalas keburukan yang dilakukan oleh orang lain terhadapnya.....????? jangan pernah membiarkan keburukan orang lain mengatur sikap kita. Jangan pernah membiarkan keburukan orang lain menjadi penyebab kita melakukan keburukan yang sama untuk membalas perilaku buruknya kepada kita.....
Susah ????? Memang..... tetapi Allah suka.....

Segala sesuatu itu dapat dibandingkan jika berada pada term yang sama. Ikan akan tampak bodoh jika parameter pembanding kita kemampuan tupai memanjat pohon, pun sebaliknya.