Senin, 27 Januari 2014

MENGHIBA 99 RAHMAT-NYA DI AKHIRAT


Janji Allah adalah benar, perjumpaan dengan-Nya juga benar lalu apalagi yang harus kita ragukan. Yakin adalah kata kunci yang harus melekat dalam setiap hembus nafas kita dan dalam setiap gerak langkah yang kita ayun. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa ijin-Nya, bahkan tetes embun yang jatuh dari ujung daun.  Maha suci Allah yang maha mengatur semesta raya beserta isinya. Mahasuci Allah yang maha menggenggam kehidupan hingga setelah kematian. Yang dengan satu rahmatnya saja seisi dunia bisa berkasih sayang. Lalu berada dimanakah kita ketika saudara-saudara kita membutuhkan pertolongan….???  Sibuk menimbun harta, mencari popularitas dan pengakuan atau bergulat dengan perbuatan sia-sia. Pernahkan air mata kita menetes karena mereka…??? Pernahkan kita merasakan derita mereka,  pernahkah kita menyebut mereka dalam lantunan doa-doa kita…????  
Mengapa kita tidak pernah bisa bergandeng tangan, mengapa kita selalu saling menyalahkan tidak adakah hal lain yang lebih berguna daripada saling hujat?  saling menebar benci dan caci? Tidak bisakah berdiri di ranah yang sama untuk saling menjaga dan saling menguatkan ???? menekan ego dan gengsi pribadi yang menyesatkan. Tidak yakinkah bahwa kita pasti kembali kepada dzat maha pencipta pemilik langit dan bumi yang kita tinggali, pemilik jiwa dan raga kita yang kerap kali kita gunakan untuk maksiat kepada-Nya dan  mendustakan segala nikmat yang dikaruniakan-Nya.
Tidak ingatkah bahwa maut setiap saat mengintai, sudah siapkah kita menyambut kedatangan Ijrail dengan senyuman termanis? bekal apa yang akan kita bawa untuk menghadap sang maha pencipta. Apa yang akan kita katakan ketika Allah meminta pertanggungjawaban kita atas nikmat hidup dan kehidupan yang dikaruniakan-Nya?

Allahumma, La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin… Ya allah, Tidak ada Tuhan selain-Mu. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku ini termasuk orang-orang yang  zalim…