Jumat, 22 Februari 2013

Belajar Dari Burung


BELAJAR DARI BURUNG
 Hitam dan putih terlihat jelas saat ada cahaya
Begitu pula suka dan duka
Terasa berbeda saat hati mampu merasa
Dan kala rasa memutuskan untuk bahagia,

Tersenyumlah.......!
Hapus semua ingatan tak berguna
Biarkan ia mengendap di bagian tergelap otak
Menjadi bagian memori yang terlupa

Lalu,
Mulailah semuanya dengan riang
Seriang kicauan burung di ambang fajar
Ketika hangat cahaya menyapa
Segarkan jiwa dan raga
Tiada cemas badai kan datang
Tiada takut hujan nanti menghadang

Bahagia.... ya bahagia.....
Karena bahagia milik siapa saja
Yang berusaha keras meraihnya



Karawang, 18 Oktober 2010

Minggu, 17 Februari 2013

Aku Dan Lembayung Senja


AKU DAN LEMBAYUNG SENJA
 Memendar pesona di ujung senja
Indahkan dunia dengan rona cahaya jingga
Menggoda setiap mata tuk melihatnya
Sebelum gelap bertahta
Pudarkan semua pesona
Hingga indahmu terlupa

Seperti itulah aku...
Penduduk mayoritas negeri ini
Pundi-pundi suara para politisi
Lahan subur tempat menyemai janji
Yang pesonanya sering terlupa
Setelah target suara terpenuhi

Kemudian ambisi duniawi menguasai puncak hirarki
Menutup mata hati yang semula berseri
Membuat adaku tak lagi terlihat
Walau aku terus berteriak

Mana pembangunan infrastruktur yang kau janjikan
Mana realisasi program kerja yang kau ajukan
Aku bosan dengan orasi politik yang kau gelar
Aku muak dengan kemolekan visi yang tidak terjangkau nalar
Karena, bukan itu yang ku inginkan

Aku rindu pemimpin bermartabat yang mencintai dan dicintai rakyat
Tokoh panutan yang bisa menjadi teladan
Pejabat yang kuat mengemban amanat
Seperti matahari yang tak pernah berhenti bersinar
Memberi manfaat bagi seluruh negeri
Dengan cahaya yang ia miliki





 Karawang, 07 Juli 2010
 

Senyum Yang Hilang


SENYUM YANG HILANG
Gas ........
Pengganti minyak tanah yang harganya melonjak
Sentuhan teknologi yang membuatku terhenyak
Menatap sinis;
Sedikit mimpi tentang kehidupan yang layak
Sebait harap tentang kesejahteraan yang meningkat
Saat harga kebutuhan pokok melangit
Ketika tekanan ekonomi terasa begitu menghimpit
Tragedi terus mengintip
Warnai hari dengan kisah-kisah tragis
Mata angin harap berubah arah dalam sekejap
Tarian kematian menanti
Bahaya ledakan elpiji menghantui
Merenggut banyak nyawa
Menyisakan trauma dan bekas-bekas luka
Runtuhkan segala mimpi
Tentang pemerataan
Tentang peningkatan kesejahteraan
Tentang mudahnya kehidupan
Tentang sebentuk senyum yang pernah terkembang


Karawang, 15 Juli 2010

Cerita Mbok Nah Si Penjual Bayam


CERITA MBOK NAH ‘SI PENJUAL BAYAM’
 Aku ini wong cilik
Tidak mengerti politik
Tidak paham masalah ekonomi
Yang ku tahu harga-harga di pasar selalu naik
Membuat hidup terasa semakin sulit
Bayam yang ku jual tidak pernah habis
Padahal harganya tidak kunaikkan
Kata sebagian pembeli bayamku tidak higienis
Lalu pergi membeli bayam di pasar swalayan

Apa benar bayam yang mereka beli lebih baik dari bayam yang kutanam di pekarangan?
Menggunakan kotoran ‘si jalu’ sapi kesayangan anak bungsuku
Karena aku tidak mampu membeli pupuk
Tapi tak apalah.....
Aku tidak pernah menyesal
Aku akan tetap menanam bayam dan menjualnya di pasar tradisional
Masih banyak pembeli lain yang membutuhkan bayamku
Siti ‘si buruh cuci’, Romlah ‘sang pengais sampah’

Mereka pelanggan tetapku
Kalau aku berhenti berjualan,
Apa yang akan mereka makan?
Uang mereka tidak cukup untuk membeli lauk-pauk dan sayuran mahal
Untuk dua atau tiga ikat bayam saja mereka kadang harus berhutang
Apa orang-orang besar yang mengerti politik dan paham masalah ekonomi tidak bisa lebih peduli kepada mereka?

Mungkin mereka lupa menyampaikan titipan aspirasi kepada pemerintah
Atau terlalu sibuk dengan acara tiduran di ruang sidang
Dan aksi saling serang saat paripurna dimulai
Lalu kapan kepentingan kami mendapat giliran untuk diperjuangkan..???





Karawang, 23 september  2010