Rabu, 12 Desember 2012

Bajigur Persahabatan


 Awan hitam menggantung di garis langit melingkup cakrawala yang tampak semakin gelap. Titik-titik gerimis terus berjatuhan menemani sekumpulan orang yang sedang menunggu bus antar kota. perlahan kuhempaskan tubuhku di atas bangku kayu yang terletak di emperan toko tidak begitu jauh dari tempat penghentian bus. Sedikit senyum menghias wajahku yang tampak semringah. Memendar titik-titik harap dari bola mata beningku yang berbinar cerah.
Jam setengah enam sore bus yang kutumpangi merangkak meninggalkan tempat pemberhentian sementara yang terletak dibundaran jalan yang menghubungkan dua pusat perbelanjaan terbesar di kota kelahiranku, K A R A W A N G, kota pangkal perjuangan yang belakangan sering disebut-sebut sebagai lumbung padi jawa barat. “kota padi” begitulah sebutan lain untuk kota kabupaten yang tidak pernah berhenti berhias diri itu. Di tempat inilah aku tinggal, menghabiskan sebagian masa remajaku yang menyenangkan.
Titik-titik gerimis turun semakin lebat, mencuci semua partikel debu yang setiap hari menggerogoti organ pernafasan.
I am not an actor, I am not a star
And I don’t even have my own car
But I am hoping so much You’ll stay
Then you love me anyway….
‘I am not an actor’ milik group musik asal Denmark itu mengalun dari vcd player yang terpasang di bagian depan bus. Menemani sepanjang perjalananku menuju jati bening. Tanpa sadar kedua bibirku bergerak mengikuti lirik lagu tersebut. lirik-lirik yang sudah delapan tahun tidak kunyanyikan. Lirik-lirik yang sering aku gunakan untuk membantuku mengungkapkan segenap perasaan. Lirik-lirik yang tidak akan pernah aku lupakan. Perlahan kuhela nafas panjangku dalam-dalam ”wish you’re here, jil!” jeritku dalam hati bayangan wajah jil memenuhi setiap sudut otakku.
Hari merangkak semakin gelap. Rona merah keemasan yang membentang di langit barat pun sudah tidak terlihat. Sang dewi malam perlahan menebar sayap kegelapan menggeser posisi raja siang yang sudah hampir kelelahan.
Jilan abimanyu. Nama lengkap pria yang biasa kupanggil jil.itu ia mahasiswa merchant marine college yang sejak februari lalu tinggal di rumah kos yang sama denganku. wajah khas oriental jil terlihat sangat beku seperti gunung salju yang bersuhu minus sekian derajat di bawah nol. ia jarang sekali tersenyum, membuat wajah bermata minimnya yang menawan terlihat semakin kelam. Gurat-gurat luka memancar dari sorat matanya yang tajam. Sorot mata yang setiap saat siap mengoyak siapa saja yang mencoba mengusik luka yang tengah ia sembunyikan.
 Gemerlap lampu di gerbang tol pondok gede sudah terlihat dikejauhan beberapa kilometer lagi ’bella utama’ yang kutumpangi tiba di gerbang tol itu. Separuh perjalanan sudah terlewat menyisakan sepi yang melilit hingga kedasar hati. Gerimis putih tak juga berhenti membawa anganku semakin larut dalam buai kenangan.
Jam setengah delapan malam aku tiba di rumah kos. Wajah beku jil menghadangku di pintu gerbang.. “tidak biasanya kau pulang malam….!” Ujarnya datar. Pria bertubuh jangkung itu berdiri kokoh dihadapanku, bola mata beningnya mengamati wajahku dalam-dalam.
Perlahan kuangkat kepalaku ke arahnya. Untuk sesaat pandangan kami bertemu. “iya…..!” jawabku pelan seraya berlalu dari hadapan jil yang masih terdiam. Jil menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi perlahan “hhhhhh…!” desisnya pelan bola matanya mengikuti aku hingga sosokku hilang dibalik pintu ruangan
Malam terus merambat naik,menyisakan gelap disetiap sudut kota yang sudah sejak pagi dihantui kemacetan. Semilir angin membawa serta deru mesin kendaraan yang terdengar samar-samar dikejauhan. Perlahan kuhempaskan tubuhku diatas bale-bale bambu yang ada dibalkon. Mencoba meluruhkan lelah yang mencengkeram seluruh ototku.
”tidak baik mengorbankan kepentingan sendiri untuk orang lain….!” Suara bariton itu terdengar lembut ditelingaku.
Perlahan kuhadapkan wajahku ke arah suara.” Aku tidak merasa seperti itu….!” Kataku. Sedikit rasa heran bertengger dibenakku. Seorang jil yang biasanya acuh tak acuh tiba-tiba begitu peduli padaku. “tapi…. kadang harus begitu!” Kataku lagi “untuk mendapatkan sesuatu harus mengorbankan sesuatu….! seorang temanku bilang di dunia ini tidak ada yang gratis dan tidak ada yang sia-sia…! jadi…kita tidak mungkin mendapatkan sesuatu tanpa mengorbankan sesuatu yang lain”. jelasku. setitik harap melintas dibenakku kulihat jil terdiam. Pandangannya menyapu jalanan yang mulai lengang
“benarkah? Apa semua orang di dunia ini juga berfikir sepertimu? Lalu…?” jil menghentikan ucapannya. Bola mata beningnya menatap jauh kedepan untuk beberapa saat ia kembali terdiam. Gurat-gurat luka terpancar dimatanya.
“siapa dia, jil?” tanyaku pada jil seraya mendaratkan tatapan lembutku di wajahnya.
jil menoleh, wajah khas orientalnya sedikit terperangah “dia, siapa?” katanya seraya menghadapkan wajahnya kearahku.
sekilas senyum terkembang disudut bibirku “orang yang tidak pernah menghargai pengorbananmu!” kataku bola mata bulatku mengamati wajah khas oriental milik jil yang terlihat semakin beku.
Jil tak menjawab, diamatinya lekat-lekat wajahku yang tengah menatapnya. Untuk beberapa saat pandangan kami beradu.
“seseorang yang pernah membuat hidupku lebih berwarna…!”kata jil seraya mengalihkan pandanganya.
Kini giliran aku yang terdiam. Sebait harap melayang dari benakku. ”pacarmu?” tanyaku pelan
jil menganggukkan kepalanya perlahan “iya, sampai hari minggu lalu ia masih pacarku…!” katanya tak kalah pelan dari suaraku. untuk beberapa saat aku dan jil terdiam. hening kembali merambati tempat itu
“kalau kau mau….. kau bisa membagi dukamu denganku….!” Ujarku. sedikit ragu menggelayuti perasaanku. Aku takut jil tersinggung oleh perkataanku yang so’ kenal so’ dekat itu.
jil memutar kepalanya ke arahku sudut bibirnya mengembang membentuk senyuman.”thankyou, tapi…”
“tidak apa-apa! Aku tahu aku tidak seharus….”
“dia pergi dengan pria lain!” Tukas jil cepat “dia bilang dia sudah menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia, seseorang yang bisa memahami keinginannya….seseorang…..” sejenak jil terdiam “seseorang yang bisa mencintainya dengan sempurna! ”suara jil terdengar semakin berat pandangannya kosong menatap jauh kedepan.
Untuk sesaat aku terkesiap. Bola mata bulatku tertarik beberapa sentimeter ke belakang aku sama sekali tidak menyangka luka hati pria berparas menawan itu begitu mendalam
“bodoh sekali wanita itu! Setahuku didunia ini tidak ada yang sempurana….benarkah ada orang yang bisa mencintai orang lain dengan sempurna….” umpatku dalam hati, bola mata bulatku mengamati wajah manis jil yang sedang termangu sejumput haru melintas dibenakku.
“dia benar-benar membuatku merasa tidak berharga….! semua hal yang aku lakukan untuknya sepertinya sia-sia!” lanjut jil bilur-bilur kecewa memenuhi wajahnya.
“hilang tidak berarti tidak bisa ditemukan dan pergi tidak berarti tidak mungkin kembali…..! setidaknya kau masih bisa berharap dia kembali padamu” kataku titik-titik haru membayang dimataku. satu per satu Jejak-jejak kenangan masa laluku melintas dibenakku seperti rekaman film yang tengah diputar ulang.dalam memoryku.
“tidak! dihatiku sudah tidak ada lagi tempat untuknya…..!” sergah jil mencoba menyembunyikan resah yang menggelayuti perasaannya.
“kau masih menyukainya, kan?” kataku lagi-lagi tatapan lembutku mendarat diwajah khas oriental milik jil.
Jil balas menatapku “kenapa berfikir seperti itu?” katanya, kemudian. Diamatinya wajahku dalam-dalam.
 Perlahan kualihkan pandanganku dari wajah jil menatap angkasa malam yang bertabur bintang-gemintang. “kata orang batas antara cinta dan benci itu tipis sekali…! bahkan seorang psikolog amerika bilang cinta dan benci merupakan emosi yang berjalan bersama bukan penghayatan emosi dari dua kutub yang berlawanan…! Jadi saat kau mengatakan menyesal pernah mencintai dia sebenarnya kau sedang berkata kalau kau merindukannya. Benar, kan, jil? “ aku mengarahkan wajahku menghadap jil
“tidak…!” tukas jil cepat luapan dendam terpancar dimatanya “tidak semua teori yang kau ungkapkan itu benar….!”katanya lagi, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya ”ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan ucapan termasuk cinta dan benci…satu hal lagi, kau juga harus tahu tidak semua maksud baik akan membuahkan kebaikan karena tidak semua orang bisa memahami maksud baik kita.” Lanjut jil. Bola mata minimnya menyapu jalanan yang tampak semakin lengang.
Sejenak aku termangu ucapan jil mengingatkan aku pada rentetan masa laluku yang ingin sekali aku lupakan, bau wangi khas bunga angsana, cicitan burung gereja,dan semua hal tentang Ryan.
Angin malam berhembus perlahan mengacak-acak rambutku yang kubiarkan tergerai tak beraturan.
“wi…wia! Kemari sebentar…!” suara nyaring itu memecah kesunyian.serentak aku dan jil menoleh ke arah suara, sosok wanita setengah baya menyembul di ujung tangga menuju balkon. Dengan dialek khas maduranya ia memintaku membantunya membuat wedang jahe
“iya, bu!” kataku seraya menghampiri wanita itu. Jil mengikuti aku dari belakang.
Suaranya memang sedikit keras tapi wanita yang usianya tak jauh beda dengan ibuku itu amat sangat baik, asal tidak melanggar peraturan kos tidak mungkin ada masalah dengannya.
“kau suka wedang jahe, jil?” tanya wanita paruh baya itu sambil terus berjalan menuruni anak tangga. usianya sudah hampir setengah abad, tapi tubuhnya masih terlihat bugar, jalannya tegak dan rambutnya sama sekali belum beruban.
“suka, bu!’ jawab jil tenang
“kalau kau…?” tanyanya seraya menyejajarkan langkahnya disebelahku.
Kulirik jil dengan ekor mataku. Sedikit senyum mengembang disudut bibirku.”minuman favorit, apalagi kalau wedang jahenya ditambah sedikit santan dan kolang-kaling …! rasanya tidak akan pernah ada kata tidak untuk minuman kaya manfaat itu ” jelasku ringan.
“apa namanya , wi? Ibu lupa…! Ba… ba, apa, yah?” tanya ibu kosku menyela pembicaraanku dengan jil
“bajigur, bu!” kataku, senyum lebar menghiasi bibirku.
“iya, bajigur….!seru ibu kosku girang “kapan-kapan kau juga harus nyoba bajigur buatan wia, jil!” ujarnya lagi
jil melempar senyum termanisnya kearahku “sepertinya saya sangat beruntung, bu! Tidak perlu menunggu lama untuk mencoba bajigur buatan wia,” katanya seraya menghempaskan tubuhnya disamping ibu kos yang sedang merajang gula merah.
“boleh, tapi bayar!” sergahku cepat kedua tanganku sibuk mengaduk-aduk rebusan santan
jil menghadapkan wajahnya kearahku “aku tahu…! di dunia ini tidak ada yang gratis dan tidak ada yang sia-sia” katanya menirukan ucapanku waktu di balkon. Lagi-lagi senyum manisnya terkembang.
Sesaat aku terhenyak malam ini aku menemukan siisi lain jil yang tersembunyi di balik wajah manisnya yang beku.
“ini…pertama kalinya aku minum bajigur! “ kata jil seraya menempatkan tubuhnya di sebelah tempat dudukku. “untuk pertama kalinya juga aku bisa berbagi beban dengan orang lain….! lega sekali!” katanya lagi tangan kanannya sibuk memainkan sendok yang ia gunakan untuk menyendok kolang-kaling dari dalam gelasnya.
“itulah gunanya teman..!” kataku sambil menyendok kolang-kaling terakhirku dari dalam gelas.
Jil tersenyum diamatinya wajahku dalam-dalam “terima kasih sudah menjadi temanku malam ini!” ujarnya lirih
Perlahan kuputar wajahku menghadap jil. “kau tidak apa-apa, jil?” tanyaku padanya. Bola mata bulatku balas mengamati wajah pria bertubuh jangkung itu. mata minimnya tampak lebih berbinar secerah langit malam yang bertabur bintang. Ia tak lagi beku seperti gunung es berjalan.
“tidak…!” jawabnya pelan seraya bangkit dari tempat duduknya ”thanks for all you’ve given!” katanya lagi sesaat sebelum beranjak meninggalkan teras depan.
“aku suka jil yang seperti ini!” seruku tertahan.
Langkah panjang jil sejenak terhenti, memutar seluruh badannya kearahku dan tersenyum. Senyum termanis yang selama ini bersembunyi dibalik wajah khas orientalnya yang dingin.
“saat tersenyum kau tampak lebih manis…!” kataku lagi.
Untuk beberapa saat jil terdiam diamatinya wajahku dalam-dalam “benarkah?” ujarnya pelan.
Perlahan aku mengangguk “iya…!” kataku seraya bangkit dari tempat dudukku “aku tidak bohong!” kataku lagi “teman sejati itu cermin diri, jil! jadi, tidak mungkin bohong?! ” lanjutku sesaat sebelum bergerak mendahului jil masuk rumah.
“maksudmu?” tanya jil tubuh jangkungnya bergerak membuntuti aku dari belakang
“cermin selalu menampakkan apa yang ada dihadapannya, tidak pernah bohong…! begitu juga teman sejati, ia mampu mengatakan kebaikan dan keburukan temannya dengan jujur!” jelasku
Sejenak jil terdiam. pandangannya mengikuti aku hingga sosokku menghilang di balik pintu kamar “have a nice dream!” ujarnya terdengar samar-samar dari balik pintu kamarku yang baru saja kututup rapat.
Malam bergerak semakin larut jam dinding yang tergantung di tembok kamarku sudah menunjuk angka sepuluh saat aku mencoba merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
“good night, jil!” gumamku pelan. mataku menerawang menembus langit-langit kamarku yang temaram.

                                                                                         -ỘộỘ-

Sepenggal Kisah Dari Situs Jejaring Sosial


Suatu hari aku membaca web invitation di friendsterku “orang karawang silahkan baca....” begitu katanya. Sesaat aku terhenyak bola mata bulatku mengamati kalimat yang tertera pada monitor komputerku itu. Untuk pertama kalinya hatiku tergerak mencari tahu lebih banyak lagi informasi tentang karawang. Kota kabupaten yang tercantum dalam akte lahirku sebagai kota tempat aku di lahirkan.
Jemariku mulai menari di atas keypad menyusuri artikerl-artikel manis tentang kota kelahiranku yang entah berapa lama tidak terekspos di otakku. Sedikit demi sedikit kenangan kecilku kembali. Ingatanku pada sawah, tanaman padi, dan bau khas jerami kering membangkitkan kerinduaan yang teramat sangat. Semakin aku jelajahi semakin aku ingin kembali mengukir mimpiku di kota yang terkenal dengan sebutan kota padi itu. Tempat dimana sebagian kenanganku terpatri. Kota yang akan selalu ku cintai hingga kelak aku mati. Kota tempat dimana aku ingin berbagi mimpi dengan orang-orang yang kusayangi.
Waktu terus berjalan membawaku hanyut dalam pusaran hasrat yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. “Karawang...kau kah tujuan akhir sebuah perjalanan menemukan cinta dan harapan?” kembali kuhela nafas panjangku dalam-dalam. Jemari tanganku bergerak semakin lincah meski mataku sudah semakin lelah, namun semangat yang kudapt mengalahkan lelah yang menyergap susunan syaraf.
Aku berharap kobaran semangat itu tidak akan pernah hilang seperti matahari yang tidak pernah berhenti bersinar di atas bumi Karawang. Menebar cita dan cinta, membagi mimpi dan harapan. Seperti itu pula semangatmu di dalam diriku. Tidak akan pernah berhenti membangkitkan semangat, harapan dan kecintaanku terhadap kota Karawang, hingga kita bisa terus berbagi, saling memberi arti untuk kota yang sama-sama kita cintai.
Anganku terus mengembara mengikuti gerakan bola mata bulatku yang semakin asyik berselancar di atas samudera kata, menyelami beragam informasi yang termuat dalam artikel berita seputar karawang. Sedikit senyum terkembang di sudut bibirku “menyenangkan sekali jika tulisanku bisa menjadi bagian dari media online tersebut....” pikirku dalam hati sambil terus menyusuri artikel demi artikel yang ingin kunikmati.
Hari terus berganti. Detik demi detik berlalu menghimpun titik-titik keberanian yang berserak di palung kalbu lalu kususun dalam bait-bait puisi yang akhirnya ku kirimkan padamu agar bisa di muat di media online yang kamu kenalkan padaku.dengan harapan butir-butir keberanian yang tengah berusaha aku kumpulkan bisa membawaku dalam ranah kebebasan mengekspresikan diri melalui tulisan-tulisanku yang sekarang ku biarkan memenuhi memori laptopku. Ranah digital yang ingin kusukai dan kukenali lebih dalam lagi.
Puisi yang kutulis memang hanya luapan pikiran, perasaan dan harapan dengan imajinasi yang kubiarkan sedikit berkembang. Tanpa dasar teori tentang tulis-menulis apalagi sentuhan pengetahuan tentang ilmu bahasa dan kesusastraan. “tidak perlu kebanyakan teori, langsung praktek saja....” begitu katamu waktu itu saat aku berusaha meminjam buku yang pernah kamu rekomendasikan padaku.
Puisi demi puisi pun terlahir. Jauh dari kata bagus apalagi jika dibandingkan dengan karya sastrawan ternama seperti WS Rendra, Chairil Anwar atau Taufik Ismail yang terkenal dengan keelokan bahasa dan kedalaman makna syair-syairnya. Namun satu hal yang tidak ingin aku lewatkan yaitu membagi semua puisi itu denganmu sebagai ungkapan terima ksihku atas semangat dan inspirasi yang kamu berikan hingga aku tidak pernah berhenti menulis meski sampai sekarang keberanianku untuk menyunting sendiri tulisan-tulisanku itu belum juga hadir. Bahkan untuk menyuntingnya di blog pribadi yang pernah kubuat atas saranmu pun belum berani.
Aku iri pada orang-orang sepertimu yang bisa dengan mudah bertukar pendapat dalam sebuah forum online hingga berkelakar lepas tentang topik-topik hangat yang beredar luas di masyarakat. “aku ingin ada di sana tapi rasanya seperti menjadi diriku yang lain....” tulisku padamu dalam pesan singkat melalui ponselku usai membuka akun jejaring sosial milikku.
Aku senang kamu pernah membariku kesempatan dan ruang untuk menampilkan karyaku hingga aku merasa nyaman membagi pikiran, pengalaman dan semua perasaan yang aku rasakan. Aku tidak ingin menjadi diriku yang lain. Aku hanya mencoba melatih diri menjadi diriku yang berbeda dari sebelumnya. Diriku yang tidak hanya bisa membaca tulisan orang lain dan tidak hanya nyaman dengan one to one person communication.
Waktu terus bergulir. Membolak-balikkan hati yang tidak pernah berhenti mencari titik-titik keberanian yang ingin kugali. Hari ini aku mencoba menyunting sebuah catatan dalam akun jejaring sosial milikku ditengah carut-marutnya suntingan baru yang membuatku blingsatan. Sebuah puisi yang kubuat pertengahan maret lalu yang kupilih menjadi suntingan pertamaku dan pernah aku bagi denganmu melalui ponselku. Aku berharap semua yang kulakukan hari ini menjadi awal dari diriku yang berbeda. Tapi, semakin jauh aku memasuki ranah digital itu semakin kuat rasa kehilanganmu menjeratku. Mengubur semua keberanianku untuk meraihmu. Aku merasa tertinggal  jauh dibelakangmu hingga langkahmu tak sanggup lagi kurengkuh. Aku kehilanganmu......
Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu aku sangat merindukanku
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karena saat itu aku tak berada disampingmu
Puisi berjudul hilang itu kembali terngiang ditelingaku, mencabik tumpukan mimpi yang memenuhi ruang hati. Pedih, perih bercampur menjadi satu di dalam dadaku. Perlahan kuusap butiran bening yang meleleh di sudut-sudut mataku seraya menghela nafas panjangku dalam-dalam. Mencoba melepas sesak yang menghimpit jiwa dan rasa melalui hembusan nafas yang ku keluarkan.
“what’s lost can not be found...?????” gumamku pelan.

Selasa, 11 Desember 2012

P u l a n g


Matahari sudah tak seterik tadi siang. Bus yang ku tumpangi  bergerak perlahan membelah lalu-lintas kota yang terlihat ramai. Angin barat berhembus pelan mengantar arakan awan menuju ke satu titik kemudian menyatu membentuk gelap digaris langit. Butir-butir hujan mengintip malu dibalik ragu, turun mengguyur bumi atau menguap bersama terik mentari. Hari beranjak senja. Bus yang kutumpangi melaju semakin kencang menembus kepulan debu  dan asap kendaraan yang bercampur menjadi satu dalam diam, membumbung tinggi ke angkasa lalu hilang tenggelam dalam perjalanannya mengikuti  gerak sang bayu. Untuk beberapa saat kupejamkan mataku merasakan setiap detik waktu  berlalu menapaki jejak-jejak kenangan yang terukir rapi dalam memori ku, datang dan pergi silih berganti, susah, senang, tangis dan tawa menghiasi sisi terang dan gelap sebuah pentas sandiwara raksasa  bernama dunia.
“huhhhhffftttt…” desis ku pelan seraya menghela nafas panjang ku dalam - dalam kemudian menghembuskan nya lagi perlahan,  pandanganku menyapu jalanan yang tampak semakin lengang. Senyum manismu, bening bola matamu menari-nari dipelupuk mataku…”akhhhh….inikah rindu…” pikirku, pandanganku kembali mengamati rimbun tajuk angsana yang berjajar disepanjang jalan. Pucuk-pucuk ranumnya menghijau dalam remang senja yang mulai gelap.  tak bergerak karena angin barat yang tadi memanja berhenti berhembus,  memberi ruang untuk ku menikmati setiap detail senyummu dan mengukirnya dalam dimensi waktu. memperindah  ruang-ruang asa setiap kali sepi melilit hati. Takkan pernah hilang walau bait-bait pilu mengiris kalbu karena simfoni yang kau mainkan lebih indah dari sekedar lagu.
Jam empat sore bus yang kutumpangi meninggalkani perbatasan jogja. Diiringi titik-titik gerimis yang perlahan berjatuhan. Mengusir partikel debu yang sejak pagi tadi tiada henti menari mengikuti irama lagu sang bayu.  Bumi terasa diam. Hanya  raungan mesin kendaraan yang  terdengar memecah kesunyian. Merangkak pelan diantara tanjakan dan tikungan tajam yang licin terguyur hujan. Senja beranjak gelap. Lagi-lagi senyummu hadir memenuhi ruang kalbu ku yang hampir beku. Terperangkap dalam dinginnya hawa yang terus bergerak mengoyak  malam. Kembali kuhela nafas panjangku dalam-dalam seraya mengalihkan pandangan ku keluar ke arah pucuk-pucuk nyiur yang bungkam. Menahan perihnya luka setelah sepanjang siang  sang bayu memperlakukannya dengan kejam hingga daun-daun runcingnya terjuntai ke tanah dan tak lagi indah dipandang. Namun tak pernah jemu menunggu sang bayu kembali  datang menyapanya dengan ramah dalam buaian lembut memanja bukan untuk menambah luka. Angan ku terus mengembara menelusuri jejak-jejak waktu yang terukir rapi diotak ku. Rangkaian mimpi yang ingin kutulis bersama mu. Lukisan rasa yang pernah aku bagi denganmu. Cerita indah antara kau dan aku.
“Hhhh…” desahku pelan mencoba menghalau resah yang menyelinap masuk melalui celah-celah rasa. “masihkah kau mengingat ku?” gumam ku dalam hati. Pandanganku nanar menatap jauh ke depan. Mencoba memahami setiap kata yang pernah kau tulis dan semua hal yang pernah kau lakukan, bagi ku terasa seperti ulah sang bayu tadi siang yang membuat pucuk-pucuk nyiur itu bungkam. Karena aku tak mampu memahami mu dan tak pernah bisa membaca arah gerak mu hanya sanggup mengikuti setiap langkah yang kau pijak dan tetap menantimu dalam diam. Seperti pucuk-pucuk nyiur itu….
Langit malam pekat tanpa gemintang, sayup pekik guntur terdengar dikejauhan menemani raungan mesin kendaraan saat melewati tanjakan. Sejenak kupejamkan mataku mencoba menepis senyummu dari otak ku lalu membiarkan anganku luruh dalam dekap sang waktu hingga aku terlelap dan kumandang  azdan shubuh akhirnya membangunkan ku. Gemerlap lampu di gerbang tol karawang sudah terlihat dikejauhan,  beberapa kilo meter lagi bus yang kutumpangi  tiba di gerbang tol itu. Membawaku kembali menginjakkan kaki di kota kelahiranku, K A R A W A N G . Kota tempat dimana semua mimpi ku berawal, kota kabupaten yang akan menjadi tampat ku kembali kemana pun aku pergi, kota terakhir tempat biduk cita dan cintaku berlabuh. Mengembang layar asa yang ingin kurentang. Tidak hanya dalam diam.
Pulang. Kembali ke titik awal. Menyusuri setiap jejak waktu yang tersimpan rapi di sudut-sudut kenangan. Aku, kau dan  cerita yang pernah kita lalui bersama. Masihkah kau mengingatnya? Untuk beberapa saat aku tercenung. mematung di pintu keluar terminal. Udara pagi serentak menyerbu tubuh dan wajah ku. Dingin menusuk hingga kedasar tulang. Perlahan kuhela nafas panjangku dalam-dalam mencoba melepas sesak yang memenuhi rongga dadaku, pedih, perih bercampur menjadi satu. aku yakin di suatu tempat  di salah satu sudut kota ini kau merasakan kehadiranku.
Ya…aku pulang….membawa semua mimpi yang ingin kurangkai walau kita tidak akan pernah bisa berdiri di orbit yang sama seperti gemintang diatas sana. Aku tahu kau akan tetap memendar cahaya walau tidak untuk menerangi gelapku dan mengindahkan setiap malam ku.  sejenak kutengadahkan wajahku memandangi langit yang mulai terang. Samar dikejauhan sang gemintang mengerlip manja menyambutku dengan senyum manisnya. Senyum yang  sama seperti yang kulihat beberapa tahun silam. ‘bahkan untuk melihat mu pun aku harus menengadahkan wajah…kau terlampau sulit untuk kurengkuh…” gumamku pelan seraya mengusap butiran bening yang meleleh disudut-sudut mataku. Mengurai pedih dalam tangisku yang sudah tidak bisa kutahan…..

Langit malam itu akan selalu ada, walau bulan kini enggan mengindahkannya dan membiarkannya gelap tanpa cahaya….

Kamis, 06 Desember 2012

Serpihan Mahkota Mawar


Gurat-gurat waktu masih tegak berdiri menemani kuntum-kuntum mawar yang mengembang pesona, mengiring sekumpulan hari yang terus beranjak merenggut helaian mahkota bunga yang berjatuhan dari kelopak. Menyisakan cerita tentang keindahan dan bau wangi khas yang menandai kehadirannya. Tidak pernah terlupa selamanya akan tetap ada dalam ingatan sang pecinta. Walau jaman terus berubah dan jenis bunga terus bertambah, keindahan dan bau wangi khas sang mawar tidak akan pernah berubah. Ia tidak akan berhenti memberikan kesan yang baik dalam ingatan setiap mata yang melihatnya. Meski mahkota indahnya tak lagi terkembang dan bau wangi khasnya tak lagi semerbak.
Lalu bagaimana dengan kita?
Bukankah manusia juga sesungguhnya hanyalah sekumpulan hari? Jika satu hari berlalu dan hari selanjutnya tiba, maka meleburlah salah satu bagian dari diri kita. Relakah kita membiarkan satu hari kita terlepas tanpa makna? Karena sekumpulan hari yang telah melebur tidak akan pernah kembali menyusun kerangka tubuh kita. Mampukah kita seperti sang mawar yang keindahannya tidak pernah berhenti di kenang meski mahkota bunganya tak lagi mengembang atau membiarkan hari-hari yang berlalu dari kehidupan kita hanya berisi gemulai tarian kelalaian karena kita enggan beranjak dari semunya keindahan duniawi yang bersifat fana.
Sesungguhnya setiap hembusan nafas kita adalah langkah menuju kematian, seperti serpihan mahkota mawar yang perlahan berguguran. Rambut yang dahulu hitam mulai beruban, keriput dipermukaan kulit bermunculan, geligi yang dahulu kuat mulai tanggal menandai usia yang semakin bertambah tua. Lalu apa yang sudah kita siapkan? Bisakah kita seperti para pecinta yang menjadikan kematian sebagai  jembatan untuk bertemu dengan kekasihnya? Siapkah kita menghadap sang pencipta dengan hati yang diliputi kerinduan terhadap-Nya?

“tiap-tiap yang berjiwa pasti merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS 3:185)”