Rabu, 11 Februari 2015

DIALAH SATU-SATUNYA

Cerahnya hari, birunya langit semilir angin, arakan awan serta derai hujan tidak satupun peristiwa yang luput dari pengawasan-Nya, bahkan gerak elektron dalam sebuah atom. Suka, duka, susah, sedih, bahagia dan tangis adalah warna yang senantiasa hadir dalam setiap langkah umat manusia. 

Tidak kah kita berharap menjadi seseorang yang berbeda di mata-NYa? Seseorang yang istimewa karena setiap kesedihan, kebencian, amarah dan senyuman kita selalu hadir atas nama-NYa. Menyukai apa yang Dia sukai dan membenci apa yang Dia benci. Kedalaman ‘cinta’ yang akan membuat kita melakukan segala perintah-Nya tanpa tanya.  Bisakah kita menjadikan Dia satu-satunya yang  segala-galanya dalam hidup kita dan mampu kah kita mengisi singgasana hati hanya dengan-Nya, tanpa selain Dia. Memeberi arti setiap gerak hati dengan asma-Nya  yang mewujud dalam keyakinan, lisan dan tindakan yang terjaga hanya untuk dan karena Dia sebagai bukti syukur kita atas segala nikmat yang tiada henti kita reguk, bahkan nikmat hidup itu sendiri yang kadang luput kita syukuri. 

Kita terlalu angkuh dengan sedikit saja kelebihan yang kita miliki tanpa sadar bahwa tanpa ijin-Nya untuk mengedipkan mata saja kita tidak akan sanggup. Lalu mengapa kita begitu berani menentang-Nya ???? dengan congkaknya kita membantah padahal semua perintah-Nya adalah kebaikan untuk kita. Dia tidak akan merugi walaupun seluruh dunia menentang-Nya. Dia akan tetap agung dengan segala kemahaan-Nya walaupun seisi bumi tak ada yang mentaati-Nya. Kita lah yang akan merugi dan kita lah yang akan celaka karena kebodohan kita sendiri.  Dengan bangganya kita memadamkan cahaya yang sebelumnya menyala, dengan atau tanpa kita sadari. kita terbuai oleh kamuflase dunia yang kita singgahi, kita lupa ada kehidupan setelah mati. Kehidupan abadi yang akan menghantarkan kita pada rekahan senyum atau ratapan sesal.  Yakinlah..., kita tidak akan lama berada di dunia ini. Bersiaplah untuk menghadap-Nya agar rekahan senyum terindah menjadi milik kita kelak ketika menjumpai-Nya.


Wahai dzat yang maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu (HR. Tirmidzi dan Ahmad).