Kamis, 18 Desember 2014

SECANGKIR TEH CINTA

Desember menjelang, suhu pun turun perlahan. Kadang-kadang mencapai  5oC bahkan kurang. Tidak turun salju disini tapi tetap saja dingin bahkan pada puncak musim dingin suhu di daerah yang katanya paling hangat di Jepang ini pun bisa mencapai minus sekian derajat dibawah nol.

Siang ini sedikit berawan, dingin terasa menusuk hingga kedasar tulang dan terus bertambah dingin hingga sore menjelang. Laboratorium terasa seperti membeku dalam dekapan hawa dingin. Semua mahasiswa pergi melakukan student experiment di lantai 6 kecuali aku yang masih bergulat dengan sample-sample DNA yang harus di amplifikasi. Hari terasa semakin beku. Senja merayap menebar gelap. Dari balik jendela kulihat lampu warna-warni serentak menyala di ujung pelabuhan, tampak jelas dari ruang kerjaku di lantai 7 diiringi suara lonceng yang terdengar sayup di kejauhan. Tepat Jam 5 sore. Di luar angin bertiup perlahan membawa dingin menyebar di setiap sudut ingatan.

“do you like tea?”  suara lembut seorang perempuan terdengar lirih di telingaku, selirih angin yang membelai kerontang dedaunan, menguning dan berguguran.

Perlahan kuangkat wajahku. Kulihat Ishimaru berdiri kokoh disamping tempat dudukku. Tangan kanannya mengulurkan secangkir teh panas kearahku. Sejenak kuamati gadis bermata minim itu “arigatou gozaimasu..”  ujarku, sudut bibirku mengembang membentuk senyuman, senyum termanis yang sekuat tenaga kuhadirkan disela penatnya kesibukan.

“ahhhh.... baik sekali gadis itu...”  gumamku dalam hati seraya kembali memasang mataku di depan monitor laptopku.
Malam terus beranjak mengurai titik-tiitik sepi yang menjalar diseluruh penjuru hati. Jam dinding di lab ku sudah menunjuk angka 7 ketika semua pekerjaanku selesai kukerjakan. Aku pun bersiap meninggalkan ruangan, selimut tebal sudah terbayang  memanggilku untuk segera pulang.

Kulirik ishimaru dengan ekor mataku. Gadis bertubuh mungil itu masih terlihat sibuk. Meja kerjanya penuh dengan sample dan beberapa reagent siap pakai. Kutatap lekat wajah pucatnya “ganbarimasu...” kataku padanya sesaat sebelum beranjak meninggalkan ruangan. begitulah kami saling menyemangati setiap hari...
Tak ada jawaban. Hanya sejumput senyum yang terlempar ramah kearahku. Sejumput Senyum yang sudah sebulan ini menamani keseharianku. Menjalari hatiku dengan kehangatan yang sebelumnya bahkan tak sanggup kubayangkan. Mengalahkan dinginnya musim yang menyelimuti Shizuoka saat ini.

Angin malam berhembus semakin kencang, serentak menyerbu tubuh dan wajahku yang baru saja melewati pintu keluar gedung. Dingin. Sedingin waktu yang tidak pernah berhenti bergerak. Tunduk Patuh pada titah Rabb-nya. Melenggang dengan setumpuk kenangan yang tersimpan rapi di bagian belakang otak.

Gemerisik dedaunan menyelipkan rindu disetiap langkah yang ku ayun menuju apartemenku. Ya.... aku rindu kampung halamanku. Sangat rindu.

“i want to work in my home town because i always miss the foods are made by my mother...” ucapan Ishimaru tadi siang kembali terngiang ditelingaku. Lagi-lagi kukulum senyum di sudut bibirku.  Dimataku terbayang wajah-wajah yang tak pernah berhenti kurindukan satu per satu mengisi pelupuk mata yang mulai basah. Aku ingat bapa, ibu dan kedua adikku.

Malam semakin pekat. Titik-titik gerimis perlahan berjatuhan, menghanyutkan segala rasa yang membaur menjadi satu di dalam dadaku.

Aku bergegas mempercepat langkah menembus dingin yang terasa semakin tidak bersahabat sementara anganku terus menjajaki dimensi waktu yang tak pernah bisa kuulang.

Kasih sayang memang tak pernah mengenal waktu dan ruang. Ketika hati berbicara maka tidak akan pernah ada rasa yang tidak bisa tersampaikan bahkan dengan orang-orang yang baru ku kenal dalam hitungan bulan. Tidak ada sedikitpun alasan bagi Allah untuk mempertautkan hati walau hanya dengan satu bagian saja dari rahman dan rahim-Nya. Maka sudah sepantasnyalah jika kita mengharapkan 99 bagian lagi dari rahmat-Nya kelak diakhirat.
Perlahan kuhela nafas panjangku. Terima kasih Ishimaru, secangkir teh hangatmu sudah kembali mengingatkanku pada hakikat kita berbeda suku bangsa, negara dan budaya. untuk saling mengenal.

Wahai manusia sungguh Kami telah menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa....... (QS 49:13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar