SECANGKIR TEH
CINTA
Desember menjelang, suhu pun turun
perlahan. Kadang-kadang mencapai 5oC
bahkan kurang. Tidak turun salju disini tapi tetap saja dingin bahkan pada
puncak musim dingin suhu di daerah yang katanya paling hangat di Jepang ini pun
bisa mencapai minus sekian derajat dibawah nol.
Siang ini sedikit berawan, dingin terasa
menusuk hingga kedasar tulang dan terus bertambah dingin hingga sore menjelang.
Laboratorium terasa seperti membeku dalam dekapan hawa dingin. Semua mahasiswa
pergi melakukan student experiment di lantai 6 kecuali aku yang masih bergulat
dengan sample-sample DNA yang harus di amplifikasi. Hari terasa semakin beku.
Senja merayap menebar gelap. Dari balik jendela kulihat lampu warna-warni serentak
menyala di ujung pelabuhan, tampak jelas dari ruang kerjaku di lantai 7 diiringi
suara lonceng yang terdengar sayup di kejauhan. Tepat Jam 5 sore. Di luar angin
bertiup perlahan membawa dingin menyebar di setiap sudut ingatan.
“do you like tea?” suara lembut seorang perempuan terdengar
lirih di telingaku, selirih angin yang membelai kerontang dedaunan, menguning
dan berguguran.
Perlahan kuangkat wajahku. Kulihat Ishimaru
berdiri kokoh disamping tempat dudukku. Tangan kanannya mengulurkan secangkir
teh panas kearahku. Sejenak kuamati gadis bermata minim itu “arigatou
gozaimasu..” ujarku, sudut bibirku
mengembang membentuk senyuman, senyum termanis yang sekuat tenaga kuhadirkan
disela penatnya kesibukan.
“ahhhh.... baik sekali gadis itu...” gumamku dalam hati seraya kembali memasang mataku
di depan monitor laptopku.
Malam terus beranjak mengurai titik-tiitik
sepi yang menjalar diseluruh penjuru hati. Jam dinding di lab ku sudah menunjuk
angka 7 ketika semua pekerjaanku selesai kukerjakan. Aku pun bersiap
meninggalkan ruangan, selimut tebal sudah terbayang memanggilku untuk segera pulang.
Kulirik ishimaru dengan ekor mataku. Gadis
bertubuh mungil itu masih terlihat sibuk. Meja kerjanya penuh dengan sample dan
beberapa reagent siap pakai. Kutatap lekat wajah pucatnya “ganbarimasu...” kataku
padanya sesaat sebelum beranjak meninggalkan ruangan. begitulah kami saling menyemangati setiap hari...
Tak ada jawaban. Hanya sejumput senyum
yang terlempar ramah kearahku. Sejumput Senyum yang sudah sebulan ini menamani
keseharianku. Menjalari hatiku dengan kehangatan yang sebelumnya bahkan tak
sanggup kubayangkan. Mengalahkan dinginnya musim yang menyelimuti Shizuoka saat
ini.
“i want to work in my home town because i
always miss the foods are made by my mother...” ucapan Ishimaru tadi siang
kembali terngiang ditelingaku. Lagi-lagi kukulum senyum di sudut bibirku. Dimataku terbayang wajah-wajah yang tak
pernah berhenti kurindukan satu per satu mengisi pelupuk mata yang mulai basah.
Aku ingat bapa, ibu dan kedua adikku.
Malam semakin pekat. Titik-titik gerimis
perlahan berjatuhan, menghanyutkan segala rasa yang membaur menjadi satu di
dalam dadaku.
Aku bergegas mempercepat langkah menembus
dingin yang terasa semakin tidak bersahabat sementara anganku terus menjajaki
dimensi waktu yang tak pernah bisa kuulang.
Kasih sayang memang tak pernah mengenal
waktu dan ruang. Ketika hati berbicara maka tidak akan pernah ada rasa yang
tidak bisa tersampaikan bahkan dengan orang-orang yang baru ku kenal dalam
hitungan bulan. Tidak ada sedikitpun alasan bagi Allah untuk mempertautkan hati
walau hanya dengan satu bagian saja dari rahman dan rahim-Nya. Maka sudah
sepantasnyalah jika kita mengharapkan 99 bagian lagi dari rahmat-Nya kelak
diakhirat.
Perlahan kuhela nafas panjangku. Terima
kasih Ishimaru, secangkir teh hangatmu sudah kembali mengingatkanku pada
hakikat kita berbeda suku bangsa, negara dan budaya. untuk saling mengenal.
Wahai manusia sungguh Kami telah menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa....... (QS 49:13)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar