Terik matahari
terasa membakar kulit, tapi tak membuat
miris pengunjung malioboro yang sudah sejak pagi mengular memenuhi trotoar. Muka-muka asing pun turut hilir-mudik disepanjang jalan,
seperti aku yang tiba-tiba merasa asing dengan tempat yang sudah hampir dua tahun
aku tinggali….rasanya seperti terdampar di planet yang tak berpenghuni. Kosong dan
sepi. Perlahan kusandarkan tubuhku di kursi taman membiarkan udara malam
menyapa sekujur tubuhku yang terasa lunglai.
Titik nol kilometer terasa begitu senyap, tanpamu, impianku dan senyum
manis itu….
sejenak kualihkan pandanganku dari ramainya kendaraan yang melintas, mataku
menerawang jauh kedepan kearah benteng vredeburg yang mulai senyap terbalut
gelap. diotakku terbayang kisah perjuangan sosok-sosok gagah yang tersusun
dalam rangkaian diorama di dalam museum.
Entah kemana larinya semangat yang beberapa hari lalu membara di dalam dada.
Entah kemana hilangnya tawa yang bebarapa hari lalu senantiasa menghiasi
semringahnya wajah. Binar bola mata bening itu seakan sirna dalam perihnya
luka. Perlahan kuusap butiran bening yang meleleh di sudut-sudut mataku seraya menghela nafas panjangku dalam-dalam “hhhhhhh…”
desisku pelan. Tiba-tiba saja Semua seperti
menghilang dari pandangan, bahkan kerlip bintang yang memanja diatas sana pun
tak lagi menampakan cahaya, menyisakan bulir-bulir harap yang perlahan menguap
dari rangkaian syaraf. Aku tidak tahu
apakah pilu yang kau semai terlalu kuat atau hatiku yang terlampau rapuh. Entahlah,
aku tidak pernah tahu mengapa.... Hanya ada sederet luka yang kudapat saat aku mencoba
mengurai waktu yang terlewat.
Hari terus merambat naik mengantar senja semakin memekat. Jauh diatas sana langit biru terbentang tanpa cahaya. Terdiam, membeku dalam gulita. semua seolah terhenti tanpa daya ketika kelamnya awan menutupi warna birunya yang kian pudar, menyembunyikan gemintang yang tiada pernah lelah mengindahkan singgasana rasa. Anganku terus mengembara menyusuri setiap jejak kenangan yang terasa begitu lekat dalam ingatan, enggan menghilang meski waktu terus berusaha menenggelamkannya “may I join with you….” Suara bariton itu terdengar lembut ditelingaku memacah semua lamunan yang terpampang rapi di dalam otakku. Perlahan kuangkat wajahku kearah suara. Kulihat sosok ramping Akira berdiri kokoh dihadapanku “yes, of course….” Kataku seraya menyunggingkan sedikit senyum. Senyum pahit yang berusaha kutaburi dengan pemanis palsu agar lebih enak dilihat. “kau menangis…..” kata akira lagi dengan bahasa indonesianya yang masih terbata-bata sesaat setelah menempatkan tubuhnya di sebelah tempat duduk ku.
Hari terus merambat naik mengantar senja semakin memekat. Jauh diatas sana langit biru terbentang tanpa cahaya. Terdiam, membeku dalam gulita. semua seolah terhenti tanpa daya ketika kelamnya awan menutupi warna birunya yang kian pudar, menyembunyikan gemintang yang tiada pernah lelah mengindahkan singgasana rasa. Anganku terus mengembara menyusuri setiap jejak kenangan yang terasa begitu lekat dalam ingatan, enggan menghilang meski waktu terus berusaha menenggelamkannya “may I join with you….” Suara bariton itu terdengar lembut ditelingaku memacah semua lamunan yang terpampang rapi di dalam otakku. Perlahan kuangkat wajahku kearah suara. Kulihat sosok ramping Akira berdiri kokoh dihadapanku “yes, of course….” Kataku seraya menyunggingkan sedikit senyum. Senyum pahit yang berusaha kutaburi dengan pemanis palsu agar lebih enak dilihat. “kau menangis…..” kata akira lagi dengan bahasa indonesianya yang masih terbata-bata sesaat setelah menempatkan tubuhnya di sebelah tempat duduk ku.
bersambung.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar