Kamis, 21 November 2013

Diujung Hari




Titik-titik hujan masih berjatuhan ketika ‘damar sasongko’ melaju meninggalkan terminal. Tempat yang paling sering kusinggahi saat pulang dan pergi liburan semester.  Beberapa menit berlalu membawa ingatanku kembali menjejak setiap jengkal kenangan yang pernah terukir disini, di kota kasunanan yang hampir sepuluh tahun aku tinggalkan. Langit solo masih gelap tertutup gumpalan awan. Kedai susu segar dan roti bakar di depan LPK kopma sudah tidak ada, tempat transitku dan teman-teman sepulang kursus komputer. Hotel  Asia pun sudah berubah warna. Akhhhhh…Solo memang sudah berubah. Hanya kuntum-kuntum angsana dan bau wangi khasnya yang tidak berubah. Warna dan aroma yang selalu ingin kunikmati setiap kali menginjakkan kaki di kota ini. Angin senja berhembus perlahan ketika senyum manismu melepasku di pintu terminal. Ya, aku harus pulang seperti kuntum-kuntum angsana yang tadi pagi menebar wangi, menguning memenuhi setiap pucuk ranting. Ranumnya segera berakhir ketika desir angin mengguncang seluruh batang  dan bulir-bulir hujan menghempas dahan. Bahkan bau wangi yang tadi pagi masih kuhirup sudah tak bisa lagi kunikmati, tinggalah serpihan mahkota bunga yang berserak lunglai terhampar di sepanjang jalan, mengering dan tercampakan tak ada seorang pun yang melirik bahkan para penikmat wanginya beberapa jam silam. helaian mahkota bunga berwarna kuning itu berjatuhan dari pohonnya yang tinggi menjulang menantang zaman, terurai dan kembali ke tanah menjadi bagian dari asupan nutrisi untuk sang pohon yang telah menjadi jalan hadirnya di alam raya merasakan bening dan segarnya tetesan embun, menikmati nyanyian merdu burung-burung dan dekap hangat sang matahari yang tiada pernah lupa tersenyum menyambut pagi.  
Seperti  itulah kita, akan ada masa dimana kita berada diujung hari. Saat semua hal yang ada didunia ini menjadi tak berarti  karena tak satupun bisa menemani atau diajak menyertai. Saat dimana kita harus kembali menemui sang pemilik diri yang telah menghadirkan kita sebagai khalifah dimuka bumi. Lantas apa yang sudah kita lakukan??? Mengindahkan dunia dengan tebaran warna dan aroma wangi seperti kuntum-kuntum angsana ??? meski tak semua mata dapat menikmatinya dan tidak setiap hati menyadari indah dan wanginya. Bekal apakah yang sudah kita siapkan untuk menghadap-Nya. Hal terbaik apa yang sudah kita hadirkan untuk membuat ujung hari kita lebih bermakna untuk sesama ?????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar