Minggu, 23 Februari 2014

BINTANG BIRU DIPUNCAK MERBABU


Matahari sudah sejak tadi enggan menampakkan sinarnya, langit gelap  mengantar senja yang hampir beranjak, semilir angin berhembus perlahan mengusir peluh yang tiba-tiba memenuhi seluruh badan, hawa panasnya masih membekas walau hanya tinggal semburat merah di ufuk barat sisa-sisa terik tadi siang. Perlahan kuhembuskan nafas panjangku dalam-dalam seraya menghapus butir-butir keringat yang bermunculan disekitar pelipis dan hidung. Lelah terasa mencengkram setiap jengkal saraf setelah sepanjang siang kuhabiskan waktuku menapak pesona lereng Merbabu. Merangkai kembali sepenggal kisah yang pernah tertunda. Air terjun bertingkat, kawah condrodimuko dan setumpuk kenanganku tentang langit, bintang dan semerbak cempaka yang tak pernah lekang tertinggal masa. Mewangi di sanubari mengusir pedih, perih dan letih ketika jalan terasa begitu terjal dan turunan teramat curam. Gemercik air melagu bak melodi pembuluh rindu, menyelinap masuk melalui indera pendengaranku, berlomba dengan bisik sang bayu yang menuntun pucuk-pucuk pinus melenggang seperti bidadari, menyapaku dengan gemerisik daun-daun runcingnya yang seketika beradu, menyatu dalam harmoni tentang pilu, ketika waktu tak lagi memelukku dan terus berlalu dalam ringkihnya tangis yang memudar di dinding kalbu.
Puncak merbabu masih berkabut, menutup empat jalur pendakian dari dua arah yang berbeda.  Nyanyian murai  membungkam jerit serangga malam yang masih terjaga dan lupa bahwa gelap telah berganti terang. Tetes-tetes embun bergelantungan di ujung daun mengukir senyum yang tiada henti terkulum. Aku tidak akan pernah lupa rimbunnya hutan edelweiis, watu tulis dan puncak kenteng songo, tempat dimana kita benar-benar berada diantara lingkaran gungung yang menakjubkan, Gunung Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, Gunung Sumbing dan Sindoro yang tampak jelas dan indah di sebelah barat seolah menantang untuk di dekap. Di arah timur tampak Gunung  Lawu dengan puncaknya yang memanjang dikejauhan. Tak ketinggalan Gunung Telomoyo dan gunung Ungaran yang senantiasa setia menghadirkan keindahan kota salatiga dikala malam.
“apakah polaris yang dilihat dari puncak merbabu sama indah dengan polaris yang kita lihat kemarin? Sepertinya aku tidak akan sanggup menikmatinya ….” katamu sesaat sebelum melewati pereng putih yang terjal pandanganmu kosong menatap jauh kedepan. kearah kota salatiga yang terhampar indah dibawah sana. Perlahan kuangkat wajahku dan kuamati wajah tirusmu lekat.
“pasti lebih indah bukan? Serasa hampir tergenggam….aku ingin sekali melihatnya….” Ujarmu lagi seraya membalas tatapku. Untuk beberapa saat pandangan kita beradu. Darahku terasa berdesir dan jantungku berdegup lebih kencang dari biasa.
“Kau pasti bisa melihatnya…. Fokuslah….jalur yang akan kita lalui semakin terjal… ….!!!! …”kataku mencoba mengalihkan pembicaraan seraya mendahuluimu melanjutkan pendakian melewati hutan campuran menuju POS II. sesekali kulirikan ekor mataku ke arahmu. Tubuh rampingmu terlihat lunglai. Entah mengapa aku begitu menghawatirkanmu.
“kau baik-baik saja?” tanyaku padamu sesampainya di POS V seraya menghempaskan tubuhku di samping tempatmu berbaring. Menikmati semilir angin dan hijaunya Hamparan rumput diantara bukit-bukit kecil yang mengelilingi tempat itu.
Lagi-lagi kau mendaratkan tatapan lembutmu di wajahku. bola mata beningmu tampak semakin sayu. “kau lelah?? kembalilah….ikut bersama tim ekspedisi dari Jakarta, sebentar lagi mereka tiba disini….”kataku lagi tumpukan rasa cemas terpancar dari tatapan lekatku, mengurung segenap jiwa dan ragamu untuk tetap disini menikmati lirih angin dan mesra lambaian ilalang yang menghijau.
“aku tidak apa-apa……..” jawabmu, seraya mengalihkan pandanganmu dari wajahku menatapi rumpun ilalang yang tiada henti menari mengikuti gerak angin. Aku terus berusaha membujukmu untuk kembali, tapi kau tak sedikitpun mempedulikan rasa khawatirku yang semakin menjadi-jadi.
Setelah istirahat selama beberapa saat tim kembali melanjutkan pendakian, Jalur berikutnya semakin terjal dengan jurang-jurang dalam dikanan-kiri jalan. Jembatan setan begitulah tempat ini dijuluki, lintasan selebar satu meter dengan jurang-jurang batu dikanan kiri jalan tanpa pepohonan serta angin kencang yang setiap saat siap mendorong siapa saja kedalam jurang.
Keringat mulai mengucur, cemas, was-was dan gusar menjadi satu di dalam angan. Berharap jalur terjal ini segera terlampaui. Setengah jam berlalu, rasa lelah selama melewati tanjakan setan rasanya terhapus sudah ketika tiba di puncak. Serasa berada di antara hamparan awan. Indahnya pemandangan di puncak kenteng songo mengalahkan lelah selama pendakian. hingga tiba-tiba kulihat tubuhmu tersungkur, jatuh menggelimpang diatas rerumputan. Matamu terpejam dan bibirmu bergetar. Serentak jeritku tertahan seraya berhambur kearahmu. Angga yang berdiri tak jauh darimu bergegas melepas jaket tebalnya dan berusaha menghangatkanmu, beberapa anggota tim beranjak mencari bantuan, dua diantaranya turun menuju pos terdekat.
Hari beranjak semakin gelap, nyanyian serangga malam kembali terdengar berpadu dengan gemerisik angin yang menggoyang dedaunan. Terasa seperti sembilu yang tengah menyayat kalbu. Jauh di atas sana kerlip gemintang mulai terlihat menatapmu penuh harap. Kondisimu makin menghawatirkan sementara bantuan belum kunjung datang.  Angga merengkuhmu dalam peluknya dan terus berusaha menghangatkanmu dengan obat gosok dan jaket tebal agar kondisimu tidak semakin memburuk. “kau ingin melihat Polaris bukan…. ia tengah menatapmu…..lihatlah…” lirihku di telingamu.

bersambung.....   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar