Matahari sudah sejak tadi enggan menampakkan sinarnya, langit
gelap mengantar senja yang hampir
beranjak, semilir angin berhembus perlahan mengusir peluh yang tiba-tiba
memenuhi seluruh badan, hawa panasnya masih membekas walau hanya tinggal
semburat merah di ufuk barat sisa-sisa terik tadi siang. Perlahan kuhembuskan
nafas panjangku dalam-dalam seraya menghapus butir-butir keringat yang bermunculan
disekitar pelipis dan hidung. Lelah terasa mencengkram setiap jengkal saraf
setelah sepanjang siang kuhabiskan waktuku menapak pesona lereng Merbabu.
Merangkai kembali sepenggal kisah yang pernah tertunda. Air terjun bertingkat,
kawah condrodimuko dan setumpuk kenanganku tentang langit, bintang dan semerbak
cempaka yang tak pernah lekang tertinggal masa. Mewangi di sanubari mengusir pedih,
perih dan letih ketika jalan terasa begitu terjal dan turunan teramat curam.
Gemercik air melagu bak melodi pembuluh rindu, menyelinap masuk melalui indera
pendengaranku, berlomba dengan bisik sang bayu yang menuntun pucuk-pucuk pinus
melenggang seperti bidadari, menyapaku dengan gemerisik daun-daun runcingnya
yang seketika beradu, menyatu dalam harmoni tentang pilu, ketika waktu tak lagi
memelukku dan terus berlalu dalam ringkihnya tangis yang memudar di dinding
kalbu.
Puncak merbabu masih berkabut, menutup empat jalur pendakian dari dua
arah yang berbeda. Nyanyian murai membungkam jerit serangga malam yang masih
terjaga dan lupa bahwa gelap telah berganti terang. Tetes-tetes embun
bergelantungan di ujung daun mengukir senyum yang tiada henti terkulum. Aku tidak
akan pernah lupa rimbunnya hutan edelweiis, watu tulis dan puncak kenteng songo,
tempat dimana kita benar-benar berada diantara lingkaran gungung yang
menakjubkan, Gunung Merapi dengan
puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, Gunung Sumbing dan Sindoro yang
tampak jelas dan indah di sebelah barat seolah menantang untuk di dekap. Di
arah timur tampak Gunung Lawu dengan
puncaknya yang memanjang dikejauhan. Tak ketinggalan Gunung Telomoyo dan
gunung Ungaran yang senantiasa setia menghadirkan keindahan kota salatiga dikala malam.
“apakah polaris yang
dilihat dari puncak merbabu sama indah dengan polaris yang kita lihat
kemarin? Sepertinya aku tidak akan sanggup menikmatinya ….” katamu sesaat
sebelum melewati pereng putih yang terjal pandanganmu kosong menatap jauh
kedepan. kearah kota salatiga yang terhampar indah dibawah sana. Perlahan kuangkat
wajahku dan kuamati wajah tirusmu lekat.
“pasti lebih indah bukan?
Serasa hampir tergenggam….aku ingin sekali melihatnya….” Ujarmu lagi seraya
membalas tatapku. Untuk beberapa saat pandangan kita beradu. Darahku terasa
berdesir dan jantungku berdegup lebih kencang dari biasa.
“Kau pasti bisa
melihatnya…. Fokuslah….jalur yang akan kita lalui semakin terjal… ….!!!! …”kataku
mencoba mengalihkan pembicaraan seraya mendahuluimu melanjutkan pendakian
melewati hutan campuran menuju POS II. sesekali kulirikan ekor mataku ke arahmu.
Tubuh rampingmu terlihat lunglai. Entah mengapa aku begitu menghawatirkanmu.
“kau baik-baik saja?”
tanyaku padamu sesampainya di POS V seraya menghempaskan tubuhku di samping
tempatmu berbaring. Menikmati semilir angin dan hijaunya Hamparan rumput diantara
bukit-bukit kecil yang mengelilingi tempat itu.
Lagi-lagi kau
mendaratkan tatapan lembutmu di wajahku. bola mata beningmu tampak semakin
sayu. “kau lelah?? kembalilah….ikut bersama tim ekspedisi dari Jakarta,
sebentar lagi mereka tiba disini….”kataku lagi tumpukan rasa cemas terpancar
dari tatapan lekatku, mengurung segenap jiwa dan ragamu untuk tetap
disini menikmati lirih angin dan mesra lambaian ilalang yang menghijau.
“aku tidak apa-apa……..”
jawabmu, seraya mengalihkan pandanganmu dari wajahku menatapi rumpun ilalang
yang tiada henti menari mengikuti gerak angin. Aku terus berusaha membujukmu
untuk kembali, tapi kau tak sedikitpun
mempedulikan rasa khawatirku yang semakin menjadi-jadi.
Setelah istirahat
selama beberapa saat tim kembali melanjutkan pendakian, Jalur berikutnya
semakin terjal dengan jurang-jurang dalam dikanan-kiri jalan. Jembatan setan
begitulah tempat ini dijuluki, lintasan selebar satu meter dengan jurang-jurang
batu dikanan kiri jalan tanpa pepohonan serta angin kencang yang setiap saat siap
mendorong siapa saja kedalam jurang.
Keringat mulai
mengucur, cemas, was-was dan gusar menjadi satu di dalam angan. Berharap jalur
terjal ini segera terlampaui. Setengah jam berlalu, rasa lelah selama melewati tanjakan
setan rasanya terhapus sudah ketika tiba di puncak. Serasa berada di antara
hamparan awan. Indahnya pemandangan di puncak kenteng songo mengalahkan lelah
selama pendakian. hingga tiba-tiba kulihat tubuhmu tersungkur, jatuh menggelimpang
diatas rerumputan. Matamu terpejam dan bibirmu bergetar. Serentak jeritku tertahan
seraya berhambur kearahmu. Angga yang berdiri tak jauh darimu bergegas melepas
jaket tebalnya dan berusaha menghangatkanmu, beberapa anggota tim beranjak
mencari bantuan, dua diantaranya turun menuju pos terdekat.
Hari beranjak
semakin gelap, nyanyian serangga malam kembali terdengar berpadu dengan
gemerisik angin yang menggoyang dedaunan. Terasa seperti sembilu yang tengah
menyayat kalbu. Jauh di atas sana kerlip gemintang mulai terlihat menatapmu
penuh harap. Kondisimu makin menghawatirkan sementara bantuan belum kunjung datang.
Angga merengkuhmu dalam peluknya dan terus
berusaha menghangatkanmu dengan obat gosok dan jaket tebal agar kondisimu tidak
semakin memburuk. “kau ingin melihat Polaris bukan…. ia tengah menatapmu…..lihatlah…”
lirihku di telingamu.
bersambung.....
bersambung.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar