Kutatap awan yang masih berserak seperti tadi pagi,
melingkupi cakrawala yang seolah enggan tertawa, menyembunyikan senyum sang
matahari yang entah mengapa tak lagi ceria seperti beberapa hari lalu. Setiap
saat menyapa lelahku, menghapus peluh yang kadang enggan beranjak, setia
menghangati kalbu dengan cahaya lembutnya yang tak pernah pupus tergilas waktu. Aku rindu
senyum manis itu, aku rindu kemilau cahaya emas yang tak pernah lelah
menyinggahi senjaku, memberi ruang untuk keluarga kupu-kupu saling melepas
rindu sebelum terkurung gelapnya waktu.
Jajaran pohon nyiur masih berdiri
tegak di atas sana, dipunggung bukit yang nyaris hancur tergerus deras hujan.
Daun-daun runcingnya tak pernah bosan menyambut mesra belai sang bayu walau
kadang hampir membuatnya runtuh. Ia tak
pernah mengeluh….Aku ingin seperti pucuk-pucuk nyiur itu. Tetap tegar walau
udara yang menyapanya tak selalu segar. Tetap kukuh walau angin yang berhembus kadang membuat daun-daun
runcingnya terjatuh.
Bumi terasa diam, sang bayu seperti
berhenti bergerak. Apakah dia mendengarku atau merasakan apa yang kurasakan ?
entahlah…..hanya senyap yang kudapat, dan seraut wajah yang memudar diujung
kenangan menyisakan senyuman yang menacap lekat di sepanjang syaraf mengikat
setiap helai rindu yang mebeku dan guratan harap yang berserak di palung kalbu,
tetapi bukan jawaban atas pertanyaanku, tentang dia, aku dan senyum manis itu…
Langit semakin gelap. memekat. tak
sabar untuk menumpahkan kembali titik-titik hujan yang memaksa keluar. Jatuh menghujam
pucuk-pucuk nyiur yang sudah sejak tadi terdiam.
Membisu dalam dekap malam, tanpa
senandung lembut sang bayu yang biasa memanjakannya dalam tarian indah….namun, tak
ada yang bisa dilakukannya selain menunggu,
menata rentang waktu dalam tiadanya sambil terus berharap sang bayu akan kembali untuk
menyapanya, esok, lusa dan selamanya….
Ketika azzam telah kuat tertancap,
Namun kaki tak mampu bergerak,
Maka, berjalan bukan satu-satunya cara untuk melangkah…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar