Minggu, 17 Februari 2013

Cerita Mbok Nah Si Penjual Bayam


CERITA MBOK NAH ‘SI PENJUAL BAYAM’
 Aku ini wong cilik
Tidak mengerti politik
Tidak paham masalah ekonomi
Yang ku tahu harga-harga di pasar selalu naik
Membuat hidup terasa semakin sulit
Bayam yang ku jual tidak pernah habis
Padahal harganya tidak kunaikkan
Kata sebagian pembeli bayamku tidak higienis
Lalu pergi membeli bayam di pasar swalayan

Apa benar bayam yang mereka beli lebih baik dari bayam yang kutanam di pekarangan?
Menggunakan kotoran ‘si jalu’ sapi kesayangan anak bungsuku
Karena aku tidak mampu membeli pupuk
Tapi tak apalah.....
Aku tidak pernah menyesal
Aku akan tetap menanam bayam dan menjualnya di pasar tradisional
Masih banyak pembeli lain yang membutuhkan bayamku
Siti ‘si buruh cuci’, Romlah ‘sang pengais sampah’

Mereka pelanggan tetapku
Kalau aku berhenti berjualan,
Apa yang akan mereka makan?
Uang mereka tidak cukup untuk membeli lauk-pauk dan sayuran mahal
Untuk dua atau tiga ikat bayam saja mereka kadang harus berhutang
Apa orang-orang besar yang mengerti politik dan paham masalah ekonomi tidak bisa lebih peduli kepada mereka?

Mungkin mereka lupa menyampaikan titipan aspirasi kepada pemerintah
Atau terlalu sibuk dengan acara tiduran di ruang sidang
Dan aksi saling serang saat paripurna dimulai
Lalu kapan kepentingan kami mendapat giliran untuk diperjuangkan..???





Karawang, 23 september  2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar