Rabu, 12 Desember 2012

Bajigur Persahabatan


 Awan hitam menggantung di garis langit melingkup cakrawala yang tampak semakin gelap. Titik-titik gerimis terus berjatuhan menemani sekumpulan orang yang sedang menunggu bus antar kota. perlahan kuhempaskan tubuhku di atas bangku kayu yang terletak di emperan toko tidak begitu jauh dari tempat penghentian bus. Sedikit senyum menghias wajahku yang tampak semringah. Memendar titik-titik harap dari bola mata beningku yang berbinar cerah.
Jam setengah enam sore bus yang kutumpangi merangkak meninggalkan tempat pemberhentian sementara yang terletak dibundaran jalan yang menghubungkan dua pusat perbelanjaan terbesar di kota kelahiranku, K A R A W A N G, kota pangkal perjuangan yang belakangan sering disebut-sebut sebagai lumbung padi jawa barat. “kota padi” begitulah sebutan lain untuk kota kabupaten yang tidak pernah berhenti berhias diri itu. Di tempat inilah aku tinggal, menghabiskan sebagian masa remajaku yang menyenangkan.
Titik-titik gerimis turun semakin lebat, mencuci semua partikel debu yang setiap hari menggerogoti organ pernafasan.
I am not an actor, I am not a star
And I don’t even have my own car
But I am hoping so much You’ll stay
Then you love me anyway….
‘I am not an actor’ milik group musik asal Denmark itu mengalun dari vcd player yang terpasang di bagian depan bus. Menemani sepanjang perjalananku menuju jati bening. Tanpa sadar kedua bibirku bergerak mengikuti lirik lagu tersebut. lirik-lirik yang sudah delapan tahun tidak kunyanyikan. Lirik-lirik yang sering aku gunakan untuk membantuku mengungkapkan segenap perasaan. Lirik-lirik yang tidak akan pernah aku lupakan. Perlahan kuhela nafas panjangku dalam-dalam ”wish you’re here, jil!” jeritku dalam hati bayangan wajah jil memenuhi setiap sudut otakku.
Hari merangkak semakin gelap. Rona merah keemasan yang membentang di langit barat pun sudah tidak terlihat. Sang dewi malam perlahan menebar sayap kegelapan menggeser posisi raja siang yang sudah hampir kelelahan.
Jilan abimanyu. Nama lengkap pria yang biasa kupanggil jil.itu ia mahasiswa merchant marine college yang sejak februari lalu tinggal di rumah kos yang sama denganku. wajah khas oriental jil terlihat sangat beku seperti gunung salju yang bersuhu minus sekian derajat di bawah nol. ia jarang sekali tersenyum, membuat wajah bermata minimnya yang menawan terlihat semakin kelam. Gurat-gurat luka memancar dari sorat matanya yang tajam. Sorot mata yang setiap saat siap mengoyak siapa saja yang mencoba mengusik luka yang tengah ia sembunyikan.
 Gemerlap lampu di gerbang tol pondok gede sudah terlihat dikejauhan beberapa kilometer lagi ’bella utama’ yang kutumpangi tiba di gerbang tol itu. Separuh perjalanan sudah terlewat menyisakan sepi yang melilit hingga kedasar hati. Gerimis putih tak juga berhenti membawa anganku semakin larut dalam buai kenangan.
Jam setengah delapan malam aku tiba di rumah kos. Wajah beku jil menghadangku di pintu gerbang.. “tidak biasanya kau pulang malam….!” Ujarnya datar. Pria bertubuh jangkung itu berdiri kokoh dihadapanku, bola mata beningnya mengamati wajahku dalam-dalam.
Perlahan kuangkat kepalaku ke arahnya. Untuk sesaat pandangan kami bertemu. “iya…..!” jawabku pelan seraya berlalu dari hadapan jil yang masih terdiam. Jil menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi perlahan “hhhhhh…!” desisnya pelan bola matanya mengikuti aku hingga sosokku hilang dibalik pintu ruangan
Malam terus merambat naik,menyisakan gelap disetiap sudut kota yang sudah sejak pagi dihantui kemacetan. Semilir angin membawa serta deru mesin kendaraan yang terdengar samar-samar dikejauhan. Perlahan kuhempaskan tubuhku diatas bale-bale bambu yang ada dibalkon. Mencoba meluruhkan lelah yang mencengkeram seluruh ototku.
”tidak baik mengorbankan kepentingan sendiri untuk orang lain….!” Suara bariton itu terdengar lembut ditelingaku.
Perlahan kuhadapkan wajahku ke arah suara.” Aku tidak merasa seperti itu….!” Kataku. Sedikit rasa heran bertengger dibenakku. Seorang jil yang biasanya acuh tak acuh tiba-tiba begitu peduli padaku. “tapi…. kadang harus begitu!” Kataku lagi “untuk mendapatkan sesuatu harus mengorbankan sesuatu….! seorang temanku bilang di dunia ini tidak ada yang gratis dan tidak ada yang sia-sia…! jadi…kita tidak mungkin mendapatkan sesuatu tanpa mengorbankan sesuatu yang lain”. jelasku. setitik harap melintas dibenakku kulihat jil terdiam. Pandangannya menyapu jalanan yang mulai lengang
“benarkah? Apa semua orang di dunia ini juga berfikir sepertimu? Lalu…?” jil menghentikan ucapannya. Bola mata beningnya menatap jauh kedepan untuk beberapa saat ia kembali terdiam. Gurat-gurat luka terpancar dimatanya.
“siapa dia, jil?” tanyaku pada jil seraya mendaratkan tatapan lembutku di wajahnya.
jil menoleh, wajah khas orientalnya sedikit terperangah “dia, siapa?” katanya seraya menghadapkan wajahnya kearahku.
sekilas senyum terkembang disudut bibirku “orang yang tidak pernah menghargai pengorbananmu!” kataku bola mata bulatku mengamati wajah khas oriental milik jil yang terlihat semakin beku.
Jil tak menjawab, diamatinya lekat-lekat wajahku yang tengah menatapnya. Untuk beberapa saat pandangan kami beradu.
“seseorang yang pernah membuat hidupku lebih berwarna…!”kata jil seraya mengalihkan pandanganya.
Kini giliran aku yang terdiam. Sebait harap melayang dari benakku. ”pacarmu?” tanyaku pelan
jil menganggukkan kepalanya perlahan “iya, sampai hari minggu lalu ia masih pacarku…!” katanya tak kalah pelan dari suaraku. untuk beberapa saat aku dan jil terdiam. hening kembali merambati tempat itu
“kalau kau mau….. kau bisa membagi dukamu denganku….!” Ujarku. sedikit ragu menggelayuti perasaanku. Aku takut jil tersinggung oleh perkataanku yang so’ kenal so’ dekat itu.
jil memutar kepalanya ke arahku sudut bibirnya mengembang membentuk senyuman.”thankyou, tapi…”
“tidak apa-apa! Aku tahu aku tidak seharus….”
“dia pergi dengan pria lain!” Tukas jil cepat “dia bilang dia sudah menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia, seseorang yang bisa memahami keinginannya….seseorang…..” sejenak jil terdiam “seseorang yang bisa mencintainya dengan sempurna! ”suara jil terdengar semakin berat pandangannya kosong menatap jauh kedepan.
Untuk sesaat aku terkesiap. Bola mata bulatku tertarik beberapa sentimeter ke belakang aku sama sekali tidak menyangka luka hati pria berparas menawan itu begitu mendalam
“bodoh sekali wanita itu! Setahuku didunia ini tidak ada yang sempurana….benarkah ada orang yang bisa mencintai orang lain dengan sempurna….” umpatku dalam hati, bola mata bulatku mengamati wajah manis jil yang sedang termangu sejumput haru melintas dibenakku.
“dia benar-benar membuatku merasa tidak berharga….! semua hal yang aku lakukan untuknya sepertinya sia-sia!” lanjut jil bilur-bilur kecewa memenuhi wajahnya.
“hilang tidak berarti tidak bisa ditemukan dan pergi tidak berarti tidak mungkin kembali…..! setidaknya kau masih bisa berharap dia kembali padamu” kataku titik-titik haru membayang dimataku. satu per satu Jejak-jejak kenangan masa laluku melintas dibenakku seperti rekaman film yang tengah diputar ulang.dalam memoryku.
“tidak! dihatiku sudah tidak ada lagi tempat untuknya…..!” sergah jil mencoba menyembunyikan resah yang menggelayuti perasaannya.
“kau masih menyukainya, kan?” kataku lagi-lagi tatapan lembutku mendarat diwajah khas oriental milik jil.
Jil balas menatapku “kenapa berfikir seperti itu?” katanya, kemudian. Diamatinya wajahku dalam-dalam.
 Perlahan kualihkan pandanganku dari wajah jil menatap angkasa malam yang bertabur bintang-gemintang. “kata orang batas antara cinta dan benci itu tipis sekali…! bahkan seorang psikolog amerika bilang cinta dan benci merupakan emosi yang berjalan bersama bukan penghayatan emosi dari dua kutub yang berlawanan…! Jadi saat kau mengatakan menyesal pernah mencintai dia sebenarnya kau sedang berkata kalau kau merindukannya. Benar, kan, jil? “ aku mengarahkan wajahku menghadap jil
“tidak…!” tukas jil cepat luapan dendam terpancar dimatanya “tidak semua teori yang kau ungkapkan itu benar….!”katanya lagi, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya ”ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan ucapan termasuk cinta dan benci…satu hal lagi, kau juga harus tahu tidak semua maksud baik akan membuahkan kebaikan karena tidak semua orang bisa memahami maksud baik kita.” Lanjut jil. Bola mata minimnya menyapu jalanan yang tampak semakin lengang.
Sejenak aku termangu ucapan jil mengingatkan aku pada rentetan masa laluku yang ingin sekali aku lupakan, bau wangi khas bunga angsana, cicitan burung gereja,dan semua hal tentang Ryan.
Angin malam berhembus perlahan mengacak-acak rambutku yang kubiarkan tergerai tak beraturan.
“wi…wia! Kemari sebentar…!” suara nyaring itu memecah kesunyian.serentak aku dan jil menoleh ke arah suara, sosok wanita setengah baya menyembul di ujung tangga menuju balkon. Dengan dialek khas maduranya ia memintaku membantunya membuat wedang jahe
“iya, bu!” kataku seraya menghampiri wanita itu. Jil mengikuti aku dari belakang.
Suaranya memang sedikit keras tapi wanita yang usianya tak jauh beda dengan ibuku itu amat sangat baik, asal tidak melanggar peraturan kos tidak mungkin ada masalah dengannya.
“kau suka wedang jahe, jil?” tanya wanita paruh baya itu sambil terus berjalan menuruni anak tangga. usianya sudah hampir setengah abad, tapi tubuhnya masih terlihat bugar, jalannya tegak dan rambutnya sama sekali belum beruban.
“suka, bu!’ jawab jil tenang
“kalau kau…?” tanyanya seraya menyejajarkan langkahnya disebelahku.
Kulirik jil dengan ekor mataku. Sedikit senyum mengembang disudut bibirku.”minuman favorit, apalagi kalau wedang jahenya ditambah sedikit santan dan kolang-kaling …! rasanya tidak akan pernah ada kata tidak untuk minuman kaya manfaat itu ” jelasku ringan.
“apa namanya , wi? Ibu lupa…! Ba… ba, apa, yah?” tanya ibu kosku menyela pembicaraanku dengan jil
“bajigur, bu!” kataku, senyum lebar menghiasi bibirku.
“iya, bajigur….!seru ibu kosku girang “kapan-kapan kau juga harus nyoba bajigur buatan wia, jil!” ujarnya lagi
jil melempar senyum termanisnya kearahku “sepertinya saya sangat beruntung, bu! Tidak perlu menunggu lama untuk mencoba bajigur buatan wia,” katanya seraya menghempaskan tubuhnya disamping ibu kos yang sedang merajang gula merah.
“boleh, tapi bayar!” sergahku cepat kedua tanganku sibuk mengaduk-aduk rebusan santan
jil menghadapkan wajahnya kearahku “aku tahu…! di dunia ini tidak ada yang gratis dan tidak ada yang sia-sia” katanya menirukan ucapanku waktu di balkon. Lagi-lagi senyum manisnya terkembang.
Sesaat aku terhenyak malam ini aku menemukan siisi lain jil yang tersembunyi di balik wajah manisnya yang beku.
“ini…pertama kalinya aku minum bajigur! “ kata jil seraya menempatkan tubuhnya di sebelah tempat dudukku. “untuk pertama kalinya juga aku bisa berbagi beban dengan orang lain….! lega sekali!” katanya lagi tangan kanannya sibuk memainkan sendok yang ia gunakan untuk menyendok kolang-kaling dari dalam gelasnya.
“itulah gunanya teman..!” kataku sambil menyendok kolang-kaling terakhirku dari dalam gelas.
Jil tersenyum diamatinya wajahku dalam-dalam “terima kasih sudah menjadi temanku malam ini!” ujarnya lirih
Perlahan kuputar wajahku menghadap jil. “kau tidak apa-apa, jil?” tanyaku padanya. Bola mata bulatku balas mengamati wajah pria bertubuh jangkung itu. mata minimnya tampak lebih berbinar secerah langit malam yang bertabur bintang. Ia tak lagi beku seperti gunung es berjalan.
“tidak…!” jawabnya pelan seraya bangkit dari tempat duduknya ”thanks for all you’ve given!” katanya lagi sesaat sebelum beranjak meninggalkan teras depan.
“aku suka jil yang seperti ini!” seruku tertahan.
Langkah panjang jil sejenak terhenti, memutar seluruh badannya kearahku dan tersenyum. Senyum termanis yang selama ini bersembunyi dibalik wajah khas orientalnya yang dingin.
“saat tersenyum kau tampak lebih manis…!” kataku lagi.
Untuk beberapa saat jil terdiam diamatinya wajahku dalam-dalam “benarkah?” ujarnya pelan.
Perlahan aku mengangguk “iya…!” kataku seraya bangkit dari tempat dudukku “aku tidak bohong!” kataku lagi “teman sejati itu cermin diri, jil! jadi, tidak mungkin bohong?! ” lanjutku sesaat sebelum bergerak mendahului jil masuk rumah.
“maksudmu?” tanya jil tubuh jangkungnya bergerak membuntuti aku dari belakang
“cermin selalu menampakkan apa yang ada dihadapannya, tidak pernah bohong…! begitu juga teman sejati, ia mampu mengatakan kebaikan dan keburukan temannya dengan jujur!” jelasku
Sejenak jil terdiam. pandangannya mengikuti aku hingga sosokku menghilang di balik pintu kamar “have a nice dream!” ujarnya terdengar samar-samar dari balik pintu kamarku yang baru saja kututup rapat.
Malam bergerak semakin larut jam dinding yang tergantung di tembok kamarku sudah menunjuk angka sepuluh saat aku mencoba merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
“good night, jil!” gumamku pelan. mataku menerawang menembus langit-langit kamarku yang temaram.

                                                                                         -ỘộỘ-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar