Matahari sudah tak seterik tadi siang. Bus yang ku tumpangi bergerak perlahan membelah lalu-lintas kota
yang terlihat ramai. Angin barat berhembus pelan mengantar arakan awan menuju
ke satu titik kemudian menyatu membentuk gelap digaris langit. Butir-butir
hujan mengintip malu dibalik ragu, turun mengguyur bumi atau menguap bersama
terik mentari. Hari beranjak senja. Bus yang kutumpangi melaju semakin kencang
menembus kepulan debu dan asap kendaraan
yang bercampur menjadi satu dalam diam, membumbung tinggi ke angkasa lalu
hilang tenggelam dalam perjalanannya mengikuti
gerak sang bayu. Untuk beberapa saat kupejamkan mataku merasakan setiap
detik waktu berlalu menapaki jejak-jejak
kenangan yang terukir rapi dalam memori ku, datang dan pergi silih berganti,
susah, senang, tangis dan tawa menghiasi sisi terang dan gelap sebuah pentas
sandiwara raksasa bernama dunia.
“huhhhhffftttt…” desis ku pelan seraya menghela nafas panjang ku dalam -
dalam kemudian menghembuskan nya lagi perlahan,
pandanganku menyapu jalanan yang tampak semakin lengang. Senyum manismu,
bening bola matamu menari-nari dipelupuk mataku…”akhhhh….inikah rindu…”
pikirku, pandanganku kembali mengamati rimbun tajuk angsana yang berjajar
disepanjang jalan. Pucuk-pucuk ranumnya menghijau dalam remang senja yang mulai
gelap. tak bergerak karena angin barat
yang tadi memanja berhenti berhembus,
memberi ruang untuk ku menikmati setiap detail senyummu dan mengukirnya
dalam dimensi waktu. memperindah
ruang-ruang asa setiap kali sepi melilit hati. Takkan pernah hilang
walau bait-bait pilu mengiris kalbu karena simfoni yang kau mainkan lebih indah
dari sekedar lagu.
Jam empat sore bus yang kutumpangi meninggalkani perbatasan jogja.
Diiringi titik-titik gerimis yang perlahan berjatuhan. Mengusir partikel debu
yang sejak pagi tadi tiada henti menari mengikuti irama lagu sang bayu. Bumi terasa diam. Hanya raungan mesin kendaraan yang terdengar memecah kesunyian. Merangkak pelan
diantara tanjakan dan tikungan tajam yang licin terguyur hujan. Senja beranjak
gelap. Lagi-lagi senyummu hadir memenuhi ruang kalbu ku yang hampir beku.
Terperangkap dalam dinginnya hawa yang terus bergerak mengoyak malam. Kembali kuhela nafas panjangku
dalam-dalam seraya mengalihkan pandangan ku keluar ke arah pucuk-pucuk nyiur
yang bungkam. Menahan perihnya luka setelah sepanjang siang sang bayu memperlakukannya dengan kejam
hingga daun-daun runcingnya terjuntai ke tanah dan tak lagi indah dipandang.
Namun tak pernah jemu menunggu sang bayu kembali datang menyapanya dengan ramah dalam buaian
lembut memanja bukan untuk menambah luka. Angan ku terus mengembara menelusuri
jejak-jejak waktu yang terukir rapi diotak ku. Rangkaian mimpi yang ingin
kutulis bersama mu. Lukisan rasa yang pernah aku bagi denganmu. Cerita indah
antara kau dan aku.
“Hhhh…” desahku pelan mencoba menghalau resah yang menyelinap masuk
melalui celah-celah rasa. “masihkah kau mengingat ku?” gumam ku dalam hati.
Pandanganku nanar menatap jauh ke depan. Mencoba memahami setiap kata yang
pernah kau tulis dan semua hal yang pernah kau lakukan, bagi ku terasa seperti
ulah sang bayu tadi siang yang membuat pucuk-pucuk nyiur itu bungkam. Karena
aku tak mampu memahami mu dan tak pernah bisa membaca arah gerak mu hanya
sanggup mengikuti setiap langkah yang kau pijak dan tetap menantimu dalam diam.
Seperti pucuk-pucuk nyiur itu….
Langit malam pekat tanpa gemintang, sayup pekik guntur terdengar
dikejauhan menemani raungan mesin kendaraan saat melewati tanjakan. Sejenak
kupejamkan mataku mencoba menepis senyummu dari otak ku lalu membiarkan anganku
luruh dalam dekap sang waktu hingga aku terlelap dan kumandang azdan shubuh akhirnya membangunkan ku.
Gemerlap lampu di gerbang tol karawang sudah terlihat dikejauhan, beberapa kilo meter lagi bus yang kutumpangi tiba di gerbang tol itu. Membawaku kembali
menginjakkan kaki di kota kelahiranku, K A R A W A N G . Kota tempat dimana
semua mimpi ku berawal, kota kabupaten yang akan menjadi tampat ku kembali
kemana pun aku pergi, kota terakhir tempat biduk cita dan cintaku berlabuh.
Mengembang layar asa yang ingin kurentang. Tidak hanya dalam diam.
Pulang. Kembali ke titik awal. Menyusuri setiap jejak waktu yang
tersimpan rapi di sudut-sudut kenangan. Aku, kau dan cerita yang pernah kita lalui bersama.
Masihkah kau mengingatnya? Untuk beberapa saat aku tercenung. mematung di pintu
keluar terminal. Udara pagi serentak menyerbu tubuh dan wajah ku. Dingin
menusuk hingga kedasar tulang. Perlahan kuhela nafas panjangku dalam-dalam
mencoba melepas sesak yang memenuhi rongga dadaku, pedih, perih bercampur
menjadi satu. aku yakin di suatu tempat
di salah satu sudut kota ini kau merasakan kehadiranku.
Ya…aku pulang….membawa semua mimpi yang ingin kurangkai walau kita tidak
akan pernah bisa berdiri di orbit yang sama seperti gemintang diatas sana. Aku
tahu kau akan tetap memendar cahaya walau tidak untuk menerangi gelapku dan
mengindahkan setiap malam ku. sejenak
kutengadahkan wajahku memandangi langit yang mulai terang. Samar dikejauhan sang
gemintang mengerlip manja menyambutku dengan senyum manisnya. Senyum yang sama seperti yang kulihat beberapa tahun
silam. ‘bahkan untuk melihat mu pun aku harus menengadahkan wajah…kau terlampau
sulit untuk kurengkuh…” gumamku pelan seraya mengusap butiran bening yang
meleleh disudut-sudut mataku. Mengurai pedih dalam tangisku yang sudah tidak
bisa kutahan…..
Langit
malam itu akan selalu ada, walau bulan kini enggan mengindahkannya dan
membiarkannya gelap tanpa cahaya….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar