Selasa, 11 Desember 2012

P u l a n g


Matahari sudah tak seterik tadi siang. Bus yang ku tumpangi  bergerak perlahan membelah lalu-lintas kota yang terlihat ramai. Angin barat berhembus pelan mengantar arakan awan menuju ke satu titik kemudian menyatu membentuk gelap digaris langit. Butir-butir hujan mengintip malu dibalik ragu, turun mengguyur bumi atau menguap bersama terik mentari. Hari beranjak senja. Bus yang kutumpangi melaju semakin kencang menembus kepulan debu  dan asap kendaraan yang bercampur menjadi satu dalam diam, membumbung tinggi ke angkasa lalu hilang tenggelam dalam perjalanannya mengikuti  gerak sang bayu. Untuk beberapa saat kupejamkan mataku merasakan setiap detik waktu  berlalu menapaki jejak-jejak kenangan yang terukir rapi dalam memori ku, datang dan pergi silih berganti, susah, senang, tangis dan tawa menghiasi sisi terang dan gelap sebuah pentas sandiwara raksasa  bernama dunia.
“huhhhhffftttt…” desis ku pelan seraya menghela nafas panjang ku dalam - dalam kemudian menghembuskan nya lagi perlahan,  pandanganku menyapu jalanan yang tampak semakin lengang. Senyum manismu, bening bola matamu menari-nari dipelupuk mataku…”akhhhh….inikah rindu…” pikirku, pandanganku kembali mengamati rimbun tajuk angsana yang berjajar disepanjang jalan. Pucuk-pucuk ranumnya menghijau dalam remang senja yang mulai gelap.  tak bergerak karena angin barat yang tadi memanja berhenti berhembus,  memberi ruang untuk ku menikmati setiap detail senyummu dan mengukirnya dalam dimensi waktu. memperindah  ruang-ruang asa setiap kali sepi melilit hati. Takkan pernah hilang walau bait-bait pilu mengiris kalbu karena simfoni yang kau mainkan lebih indah dari sekedar lagu.
Jam empat sore bus yang kutumpangi meninggalkani perbatasan jogja. Diiringi titik-titik gerimis yang perlahan berjatuhan. Mengusir partikel debu yang sejak pagi tadi tiada henti menari mengikuti irama lagu sang bayu.  Bumi terasa diam. Hanya  raungan mesin kendaraan yang  terdengar memecah kesunyian. Merangkak pelan diantara tanjakan dan tikungan tajam yang licin terguyur hujan. Senja beranjak gelap. Lagi-lagi senyummu hadir memenuhi ruang kalbu ku yang hampir beku. Terperangkap dalam dinginnya hawa yang terus bergerak mengoyak  malam. Kembali kuhela nafas panjangku dalam-dalam seraya mengalihkan pandangan ku keluar ke arah pucuk-pucuk nyiur yang bungkam. Menahan perihnya luka setelah sepanjang siang  sang bayu memperlakukannya dengan kejam hingga daun-daun runcingnya terjuntai ke tanah dan tak lagi indah dipandang. Namun tak pernah jemu menunggu sang bayu kembali  datang menyapanya dengan ramah dalam buaian lembut memanja bukan untuk menambah luka. Angan ku terus mengembara menelusuri jejak-jejak waktu yang terukir rapi diotak ku. Rangkaian mimpi yang ingin kutulis bersama mu. Lukisan rasa yang pernah aku bagi denganmu. Cerita indah antara kau dan aku.
“Hhhh…” desahku pelan mencoba menghalau resah yang menyelinap masuk melalui celah-celah rasa. “masihkah kau mengingat ku?” gumam ku dalam hati. Pandanganku nanar menatap jauh ke depan. Mencoba memahami setiap kata yang pernah kau tulis dan semua hal yang pernah kau lakukan, bagi ku terasa seperti ulah sang bayu tadi siang yang membuat pucuk-pucuk nyiur itu bungkam. Karena aku tak mampu memahami mu dan tak pernah bisa membaca arah gerak mu hanya sanggup mengikuti setiap langkah yang kau pijak dan tetap menantimu dalam diam. Seperti pucuk-pucuk nyiur itu….
Langit malam pekat tanpa gemintang, sayup pekik guntur terdengar dikejauhan menemani raungan mesin kendaraan saat melewati tanjakan. Sejenak kupejamkan mataku mencoba menepis senyummu dari otak ku lalu membiarkan anganku luruh dalam dekap sang waktu hingga aku terlelap dan kumandang  azdan shubuh akhirnya membangunkan ku. Gemerlap lampu di gerbang tol karawang sudah terlihat dikejauhan,  beberapa kilo meter lagi bus yang kutumpangi  tiba di gerbang tol itu. Membawaku kembali menginjakkan kaki di kota kelahiranku, K A R A W A N G . Kota tempat dimana semua mimpi ku berawal, kota kabupaten yang akan menjadi tampat ku kembali kemana pun aku pergi, kota terakhir tempat biduk cita dan cintaku berlabuh. Mengembang layar asa yang ingin kurentang. Tidak hanya dalam diam.
Pulang. Kembali ke titik awal. Menyusuri setiap jejak waktu yang tersimpan rapi di sudut-sudut kenangan. Aku, kau dan  cerita yang pernah kita lalui bersama. Masihkah kau mengingatnya? Untuk beberapa saat aku tercenung. mematung di pintu keluar terminal. Udara pagi serentak menyerbu tubuh dan wajah ku. Dingin menusuk hingga kedasar tulang. Perlahan kuhela nafas panjangku dalam-dalam mencoba melepas sesak yang memenuhi rongga dadaku, pedih, perih bercampur menjadi satu. aku yakin di suatu tempat  di salah satu sudut kota ini kau merasakan kehadiranku.
Ya…aku pulang….membawa semua mimpi yang ingin kurangkai walau kita tidak akan pernah bisa berdiri di orbit yang sama seperti gemintang diatas sana. Aku tahu kau akan tetap memendar cahaya walau tidak untuk menerangi gelapku dan mengindahkan setiap malam ku.  sejenak kutengadahkan wajahku memandangi langit yang mulai terang. Samar dikejauhan sang gemintang mengerlip manja menyambutku dengan senyum manisnya. Senyum yang  sama seperti yang kulihat beberapa tahun silam. ‘bahkan untuk melihat mu pun aku harus menengadahkan wajah…kau terlampau sulit untuk kurengkuh…” gumamku pelan seraya mengusap butiran bening yang meleleh disudut-sudut mataku. Mengurai pedih dalam tangisku yang sudah tidak bisa kutahan…..

Langit malam itu akan selalu ada, walau bulan kini enggan mengindahkannya dan membiarkannya gelap tanpa cahaya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar