Semburat senja membakar rasa mengusik gundah yg meraja dalam
bingkai asa yg kian samar menyatu dengan deru mesin kendaran yang
membawaku pulang. Menjemput mimpi yg tengah kurangkai untukku, untukmu,
untuk cerita yang akan kita tulis bersama dalam lembaran cita penuh
warna. Mendekap bahagia dalam tawa. Mengurai jerat-jerat pedih dengan
kekuatan cinta. Walaupun mimpi itu terasa amat sangat jauh dan
sepertinya bergerak ke arah yang berlawanan.
Waktu terus
merambat naik menyisakan jejak-jejak kenangan yang tertinggal jauh
dibelakang. Melewati jalan gelap dan terang sebuah cerita bernama
kehidupan. Sejenak kualihkan pandanganku dari rangkaian artikel yang
tengah ku baca melalui ponselku menatapi pucuk-pucuk nyiur yang berjajar
di sepanjang jalan. Menggeliat manja dalam buai tarian lembut sang bayu
seolah berkata ”bawalah aku bersamamu” untuk beberapa saat aku
terhenyak. Senyum manismu, tatapan lembutmu dan bening bola mata indahmu
menari-nari di pelupuk mataku. Ya….aku merindukanmu. Sangat
merindukanmu.
Bus yang ku tumpangi melesat semakin
kencang. Membelah senja yang beranjak gelap. Bulatan merah sang matahari
pun meredup sendu, tertutup sayap-sayap malam yang turun perlahan.
Membawa ratap pucuk-pucuk nyiur yang bergerak lunglai karena sang bayu
tak lagi membelai daun-daun runcingnya hingga ia tak sanggup lagi
menggeliat manja. Diam seribu bahasa dalam dekapan malam yang basah
terguyur hujan.
Perlahan kuhela nafas panjangku
dalam-dalam, mencoba melepas sesak yang menyelinap masuk melalui
celah-celah rasa bersama hembusan nafas yang ku keluarkan. Lalu kembali
menjatuhkan tatapku pada luasnya hamparan nyiur yang berjajar di
sepanjang jalan. seluas asa yang kurentangkan dalam senandung lirih yang
ku dendang. Walau harmonisasi nada yang kumainkan terdengar sumbang
bahkan mungkin membuat telingamu pengang karena aku bukan sosok sempurna
yang kamu inginkan.
Anganku terus mengembara menapak
gelap yang tampak semakin pekat. Menyisir sepotong rindu yang pernah ku
lihat dalam lembutnya tatap sepasang mata indah yang selalu ku ingat.
Sepasang mata indah yang seumur hidupk akan selalu ku rindukan walau
kini tak mungkin lagi ku genggam. Betapapun hati ingin merengkuhnya
dalam peluk agar sepotong rindu itu terus hidup. Tidak peduli berapa
banyak air mata yang harus ku urai saat hati dan sepotong rindu itu
mengingatkan ku padamu, pemilik mata indah yang telah mencuri semua
rinduku dari kalbu.
“hhhhhh….” Desisku pelan mengurai perih dalam lelehan air mata yang mengalir tak tertahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar