Kamis, 06 Desember 2012

Tangis Sepotong Rindu

        Semburat senja membakar rasa mengusik gundah yg meraja dalam bingkai asa yg kian samar menyatu dengan deru mesin kendaran yang membawaku pulang. Menjemput mimpi yg tengah kurangkai untukku, untukmu, untuk cerita yang akan kita tulis bersama dalam lembaran cita penuh warna. Mendekap bahagia dalam tawa. Mengurai  jerat-jerat pedih dengan kekuatan cinta. Walaupun mimpi itu terasa amat sangat jauh dan sepertinya bergerak ke arah yang berlawanan.
          Waktu terus merambat naik menyisakan jejak-jejak kenangan yang tertinggal jauh dibelakang. Melewati jalan gelap dan terang sebuah cerita bernama kehidupan. Sejenak kualihkan pandanganku dari rangkaian artikel yang tengah ku baca melalui ponselku menatapi pucuk-pucuk nyiur yang berjajar di sepanjang jalan. Menggeliat manja dalam buai tarian lembut sang bayu seolah berkata ”bawalah aku bersamamu” untuk beberapa saat aku terhenyak. Senyum manismu, tatapan lembutmu dan bening bola mata indahmu menari-nari di pelupuk mataku. Ya….aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.
          Bus yang ku tumpangi melesat semakin kencang. Membelah senja yang beranjak gelap. Bulatan merah sang matahari pun meredup sendu, tertutup sayap-sayap malam yang turun perlahan. Membawa ratap pucuk-pucuk nyiur yang bergerak lunglai karena sang bayu tak lagi membelai daun-daun runcingnya hingga ia tak sanggup lagi menggeliat manja. Diam seribu bahasa dalam dekapan malam yang basah terguyur hujan.
         Perlahan kuhela nafas panjangku dalam-dalam, mencoba melepas sesak yang menyelinap masuk melalui celah-celah rasa bersama hembusan nafas yang ku keluarkan. Lalu kembali menjatuhkan tatapku pada luasnya hamparan nyiur yang berjajar di sepanjang jalan. seluas asa yang kurentangkan dalam senandung lirih yang ku dendang. Walau harmonisasi nada yang kumainkan terdengar sumbang bahkan mungkin membuat telingamu pengang karena aku bukan sosok sempurna yang kamu inginkan.
         Anganku terus mengembara menapak gelap yang tampak semakin pekat. Menyisir sepotong rindu yang pernah ku lihat dalam lembutnya tatap sepasang mata indah yang selalu ku ingat. Sepasang mata indah yang seumur hidupk akan selalu ku rindukan walau kini tak mungkin lagi ku genggam. Betapapun hati  ingin merengkuhnya dalam peluk agar sepotong rindu itu terus hidup. Tidak peduli berapa banyak air mata yang harus ku urai saat hati dan sepotong rindu itu mengingatkan ku padamu, pemilik mata indah yang telah mencuri semua rinduku dari kalbu.
“hhhhhh….” Desisku pelan mengurai perih dalam lelehan air mata yang mengalir tak tertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar