Ketika
daun-daun gugur berkuranglah keindahan sebuah pohon. Tapi, bukan rasa benci yang menyebabkan daun-daun itu menggugurkan diri, bukan
pula karena keinginannya meninggalkan pohon yang telah menumbuhkannya.
Daun-daun itu gugur untuk melindungi sang pohon dari kekeringan, daun-daun itu
gugur karena kecintaannya kepada sang pohon yang telah memberikan kesempatan merasakan
sejuk dan lembutnya embun di pagi hari serta hangat peluk sang matahari meski
harus merelakan dirinya terbuang dan terlupakan agar pohon yang dicintainya
bisa terus bertahan melawan tekanan musim.
Mereka
tahu setelah semua berlalu daun-daun baru akan tumbuh menggantikan tempatnya
menjaga pohon tetap indah dengan pesona yang dibawanya. Menghadirkan kembali
keindahan yang pernah mereka ciptakan. Meski keindahan itu tidak akan pernah
sama, namun begitulah cara daun mencintai pohonnya, begitulah cara daun
mengokohkan eksistensinya.
Aku
tidak tahu apa yang terjadi jika daun-daun itu berpikir sepertiku. Mungkin
sudah tidak ada lagi tumbuhan evergreen di dunia ini. Karena mereka berpikir
bahwa mencintai adalah memiliki, jadi mengapa harus menggugurkan diri untuk
melindungi. Kalaupun harus mati, matilah bersama.
Sepertinya
aku harus banyak belajar dari daun-daun itu, karena mencintai dan memiliki
merupakan dua hal yang berbeda. Tapi, bagiku mencintai adalah memiliki karena
aku tidak cukup kuat untuk tebuang dan terlupakan seperti daun-daun yang
berguguran, mengering kemudian tercampakkan.
Aku
ingin selalu berada disampingnya, melewati suka-duka bersama dan terus
mencintainya sekuat aku bisa hingga suratan takdir berkata, memisahkan nyawa
dari raga. Karena hatiku tidak akan pernah sangup merelakan tempatku terganti.
Aku
memang bukan udara yang setiap saat ia hela, menyegarkannya saat lelah
menghimpit jiwa dan raga. Aku bukan awan yang selalu melindunginya dari
sengatan teriknya surya. Aku bukan malam yang setia memeluknya dalam lelap. Aku
juga bukan fajar yang selalu menemani harinya. Dan aku bukan orang yang sanggup
mengorbankan seluruh hidupku untuknya, tapi kecintaanku padanya tidak kalah
besar oleh rasa cinta daun-daun itu kepada pohonnya. Karena itu aku ingin
memilikinya, agar aku bisa terus berada disampingnya, menatap mesra wajahnya
sambil bercerita tentang kuntum-kuntum mawar kesayangannya atau mimpi-mimpi
indah yang terukir dalam goresan penanya.
Aku
ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamanya. Menjadi matahari yang bersinar
cerah menghangati paginya dan setiap saat tersenyum manis padanya. Menyatukan
hati dalam mahligai indah bertahtakan cinta. Aku ingin menjadi nyawa dalam
setiap kalimat yang ditulisnya. Menjadi impian terindah yang ingin diraihnya,
yang seumur hidup tidak akan pernah ia lepas.
Egoiskan
aku jika kecintaanku padanya membuatku ingin terus bersamanya, menyandarkan
semua mimpiku dipeluknya. Egoiskah aku jika kecintaanku padanya membuatku
berharap menjadi bagian dari dirinya. Menjadi cinta yang menyempurnakan
hidupnya.
“Astaghfirullahal’adzim……….”
Lirihku dalam hati. Dibenakku kembali terlintas ayat 20 surat Al-Hadiid yang sering sekali menjadi
bahasan dalam pengajian rutin di mesjid kampungku. Sejenak kuamati catatan
kecil yang baru selesai kutulis, menyimpannya dalam folder pribadiku lalu
beranjak dari kamarku yang penuh sesak oleh bayangan wajahmu. Menjemput
kelopak-kelopak harap yang tidak pernah berhenti menebar wangi, menghias hati
dengan rekahan kuncup-kuncup mimpi……
“Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jamah
hamba-hamba-ku
Dan masuklah ke dalam syurgaku…”
(QS 89 : 27-30)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar