Selasa, 04 Desember 2012

Kelopak-Kelopak Harap


Ketika daun-daun gugur berkuranglah keindahan sebuah pohon. Tapi, bukan rasa benci yang menyebabkan daun-daun itu menggugurkan diri, bukan pula karena keinginannya meninggalkan pohon yang telah menumbuhkannya. Daun-daun itu gugur untuk melindungi sang pohon dari kekeringan, daun-daun itu gugur karena kecintaannya kepada sang pohon yang telah memberikan kesempatan merasakan sejuk dan lembutnya embun di pagi hari serta hangat peluk sang matahari meski harus merelakan dirinya terbuang dan terlupakan agar pohon yang dicintainya bisa terus bertahan melawan tekanan musim.
Mereka tahu setelah semua berlalu daun-daun baru akan tumbuh menggantikan tempatnya menjaga pohon tetap indah dengan pesona yang dibawanya. Menghadirkan kembali keindahan yang pernah mereka ciptakan. Meski keindahan itu tidak akan pernah sama, namun begitulah cara daun mencintai pohonnya, begitulah cara daun mengokohkan eksistensinya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi jika daun-daun itu berpikir sepertiku. Mungkin sudah tidak ada lagi tumbuhan evergreen di dunia ini. Karena mereka berpikir bahwa mencintai adalah memiliki, jadi mengapa harus menggugurkan diri untuk melindungi. Kalaupun harus mati, matilah bersama.
Sepertinya aku harus banyak belajar dari daun-daun itu, karena mencintai dan memiliki merupakan dua hal yang berbeda. Tapi, bagiku mencintai adalah memiliki karena aku tidak cukup kuat untuk tebuang dan terlupakan seperti daun-daun yang berguguran, mengering kemudian tercampakkan.
Aku ingin selalu berada disampingnya, melewati suka-duka bersama dan terus mencintainya sekuat aku bisa hingga suratan takdir berkata, memisahkan nyawa dari raga. Karena hatiku tidak akan pernah sangup merelakan tempatku terganti.
Aku memang bukan udara yang setiap saat ia hela, menyegarkannya saat lelah menghimpit jiwa dan raga. Aku bukan awan yang selalu melindunginya dari sengatan teriknya surya. Aku bukan malam yang setia memeluknya dalam lelap. Aku juga bukan fajar yang selalu menemani harinya. Dan aku bukan orang yang sanggup mengorbankan seluruh hidupku untuknya, tapi kecintaanku padanya tidak kalah besar oleh rasa cinta daun-daun itu kepada pohonnya. Karena itu aku ingin memilikinya, agar aku bisa terus berada disampingnya, menatap mesra wajahnya sambil bercerita tentang kuntum-kuntum mawar kesayangannya atau mimpi-mimpi indah yang terukir dalam goresan penanya.
Aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamanya. Menjadi matahari yang bersinar cerah menghangati paginya dan setiap saat tersenyum manis padanya. Menyatukan hati dalam mahligai indah bertahtakan cinta. Aku ingin menjadi nyawa dalam setiap kalimat yang ditulisnya. Menjadi impian terindah yang ingin diraihnya, yang seumur hidup tidak akan pernah ia lepas.
Egoiskan aku jika kecintaanku padanya membuatku ingin terus bersamanya, menyandarkan semua mimpiku dipeluknya. Egoiskah aku jika kecintaanku padanya membuatku berharap menjadi bagian dari dirinya. Menjadi cinta yang menyempurnakan hidupnya.
“Astaghfirullahal’adzim……….” Lirihku dalam hati. Dibenakku kembali terlintas ayat 20 surat Al-Hadiid yang sering sekali menjadi bahasan dalam pengajian rutin di mesjid kampungku. Sejenak kuamati catatan kecil yang baru selesai kutulis, menyimpannya dalam folder pribadiku lalu beranjak dari kamarku yang penuh sesak oleh bayangan wajahmu. Menjemput kelopak-kelopak harap yang tidak pernah berhenti menebar wangi, menghias hati dengan rekahan kuncup-kuncup mimpi……

“Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jamah hamba-hamba-ku
Dan masuklah ke dalam syurgaku…”
(QS 89 : 27-30)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar