Rabu, 12 Desember 2012

Sepenggal Kisah Dari Situs Jejaring Sosial


Suatu hari aku membaca web invitation di friendsterku “orang karawang silahkan baca....” begitu katanya. Sesaat aku terhenyak bola mata bulatku mengamati kalimat yang tertera pada monitor komputerku itu. Untuk pertama kalinya hatiku tergerak mencari tahu lebih banyak lagi informasi tentang karawang. Kota kabupaten yang tercantum dalam akte lahirku sebagai kota tempat aku di lahirkan.
Jemariku mulai menari di atas keypad menyusuri artikerl-artikel manis tentang kota kelahiranku yang entah berapa lama tidak terekspos di otakku. Sedikit demi sedikit kenangan kecilku kembali. Ingatanku pada sawah, tanaman padi, dan bau khas jerami kering membangkitkan kerinduaan yang teramat sangat. Semakin aku jelajahi semakin aku ingin kembali mengukir mimpiku di kota yang terkenal dengan sebutan kota padi itu. Tempat dimana sebagian kenanganku terpatri. Kota yang akan selalu ku cintai hingga kelak aku mati. Kota tempat dimana aku ingin berbagi mimpi dengan orang-orang yang kusayangi.
Waktu terus berjalan membawaku hanyut dalam pusaran hasrat yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. “Karawang...kau kah tujuan akhir sebuah perjalanan menemukan cinta dan harapan?” kembali kuhela nafas panjangku dalam-dalam. Jemari tanganku bergerak semakin lincah meski mataku sudah semakin lelah, namun semangat yang kudapt mengalahkan lelah yang menyergap susunan syaraf.
Aku berharap kobaran semangat itu tidak akan pernah hilang seperti matahari yang tidak pernah berhenti bersinar di atas bumi Karawang. Menebar cita dan cinta, membagi mimpi dan harapan. Seperti itu pula semangatmu di dalam diriku. Tidak akan pernah berhenti membangkitkan semangat, harapan dan kecintaanku terhadap kota Karawang, hingga kita bisa terus berbagi, saling memberi arti untuk kota yang sama-sama kita cintai.
Anganku terus mengembara mengikuti gerakan bola mata bulatku yang semakin asyik berselancar di atas samudera kata, menyelami beragam informasi yang termuat dalam artikel berita seputar karawang. Sedikit senyum terkembang di sudut bibirku “menyenangkan sekali jika tulisanku bisa menjadi bagian dari media online tersebut....” pikirku dalam hati sambil terus menyusuri artikel demi artikel yang ingin kunikmati.
Hari terus berganti. Detik demi detik berlalu menghimpun titik-titik keberanian yang berserak di palung kalbu lalu kususun dalam bait-bait puisi yang akhirnya ku kirimkan padamu agar bisa di muat di media online yang kamu kenalkan padaku.dengan harapan butir-butir keberanian yang tengah berusaha aku kumpulkan bisa membawaku dalam ranah kebebasan mengekspresikan diri melalui tulisan-tulisanku yang sekarang ku biarkan memenuhi memori laptopku. Ranah digital yang ingin kusukai dan kukenali lebih dalam lagi.
Puisi yang kutulis memang hanya luapan pikiran, perasaan dan harapan dengan imajinasi yang kubiarkan sedikit berkembang. Tanpa dasar teori tentang tulis-menulis apalagi sentuhan pengetahuan tentang ilmu bahasa dan kesusastraan. “tidak perlu kebanyakan teori, langsung praktek saja....” begitu katamu waktu itu saat aku berusaha meminjam buku yang pernah kamu rekomendasikan padaku.
Puisi demi puisi pun terlahir. Jauh dari kata bagus apalagi jika dibandingkan dengan karya sastrawan ternama seperti WS Rendra, Chairil Anwar atau Taufik Ismail yang terkenal dengan keelokan bahasa dan kedalaman makna syair-syairnya. Namun satu hal yang tidak ingin aku lewatkan yaitu membagi semua puisi itu denganmu sebagai ungkapan terima ksihku atas semangat dan inspirasi yang kamu berikan hingga aku tidak pernah berhenti menulis meski sampai sekarang keberanianku untuk menyunting sendiri tulisan-tulisanku itu belum juga hadir. Bahkan untuk menyuntingnya di blog pribadi yang pernah kubuat atas saranmu pun belum berani.
Aku iri pada orang-orang sepertimu yang bisa dengan mudah bertukar pendapat dalam sebuah forum online hingga berkelakar lepas tentang topik-topik hangat yang beredar luas di masyarakat. “aku ingin ada di sana tapi rasanya seperti menjadi diriku yang lain....” tulisku padamu dalam pesan singkat melalui ponselku usai membuka akun jejaring sosial milikku.
Aku senang kamu pernah membariku kesempatan dan ruang untuk menampilkan karyaku hingga aku merasa nyaman membagi pikiran, pengalaman dan semua perasaan yang aku rasakan. Aku tidak ingin menjadi diriku yang lain. Aku hanya mencoba melatih diri menjadi diriku yang berbeda dari sebelumnya. Diriku yang tidak hanya bisa membaca tulisan orang lain dan tidak hanya nyaman dengan one to one person communication.
Waktu terus bergulir. Membolak-balikkan hati yang tidak pernah berhenti mencari titik-titik keberanian yang ingin kugali. Hari ini aku mencoba menyunting sebuah catatan dalam akun jejaring sosial milikku ditengah carut-marutnya suntingan baru yang membuatku blingsatan. Sebuah puisi yang kubuat pertengahan maret lalu yang kupilih menjadi suntingan pertamaku dan pernah aku bagi denganmu melalui ponselku. Aku berharap semua yang kulakukan hari ini menjadi awal dari diriku yang berbeda. Tapi, semakin jauh aku memasuki ranah digital itu semakin kuat rasa kehilanganmu menjeratku. Mengubur semua keberanianku untuk meraihmu. Aku merasa tertinggal  jauh dibelakangmu hingga langkahmu tak sanggup lagi kurengkuh. Aku kehilanganmu......
Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu aku sangat merindukanku
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karena saat itu aku tak berada disampingmu
Puisi berjudul hilang itu kembali terngiang ditelingaku, mencabik tumpukan mimpi yang memenuhi ruang hati. Pedih, perih bercampur menjadi satu di dalam dadaku. Perlahan kuusap butiran bening yang meleleh di sudut-sudut mataku seraya menghela nafas panjangku dalam-dalam. Mencoba melepas sesak yang menghimpit jiwa dan rasa melalui hembusan nafas yang ku keluarkan.
“what’s lost can not be found...?????” gumamku pelan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar