Suatu hari aku membaca web invitation di friendsterku
“orang karawang silahkan baca....” begitu katanya. Sesaat aku terhenyak bola
mata bulatku mengamati kalimat yang tertera pada monitor komputerku itu. Untuk pertama
kalinya hatiku tergerak mencari tahu lebih banyak lagi informasi tentang
karawang. Kota kabupaten yang tercantum dalam akte lahirku sebagai kota tempat
aku di lahirkan.
Jemariku mulai menari di atas keypad menyusuri
artikerl-artikel manis tentang kota kelahiranku yang entah berapa lama tidak
terekspos di otakku. Sedikit demi sedikit kenangan kecilku kembali. Ingatanku
pada sawah, tanaman padi, dan bau khas jerami kering membangkitkan kerinduaan
yang teramat sangat. Semakin aku jelajahi semakin aku ingin kembali mengukir
mimpiku di kota yang terkenal dengan sebutan kota padi itu. Tempat dimana
sebagian kenanganku terpatri. Kota yang akan selalu ku cintai hingga kelak aku
mati. Kota tempat dimana aku ingin berbagi mimpi dengan orang-orang yang kusayangi.
Waktu terus berjalan membawaku hanyut dalam pusaran hasrat
yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. “Karawang...kau kah tujuan akhir
sebuah perjalanan menemukan cinta dan harapan?” kembali kuhela nafas panjangku
dalam-dalam. Jemari tanganku bergerak semakin lincah meski mataku sudah semakin
lelah, namun semangat yang kudapt mengalahkan lelah yang menyergap susunan
syaraf.
Aku berharap kobaran semangat itu tidak akan pernah hilang
seperti matahari yang tidak pernah berhenti bersinar di atas bumi Karawang.
Menebar cita dan cinta, membagi mimpi dan harapan. Seperti itu pula semangatmu
di dalam diriku. Tidak akan pernah berhenti membangkitkan semangat, harapan dan
kecintaanku terhadap kota Karawang, hingga kita bisa terus berbagi, saling
memberi arti untuk kota yang sama-sama kita cintai.
Anganku terus mengembara mengikuti gerakan bola mata
bulatku yang semakin asyik berselancar di atas samudera kata, menyelami beragam
informasi yang termuat dalam artikel berita seputar karawang. Sedikit senyum
terkembang di sudut bibirku “menyenangkan sekali jika tulisanku bisa menjadi
bagian dari media online tersebut....” pikirku dalam hati sambil terus
menyusuri artikel demi artikel yang ingin kunikmati.
Hari terus berganti. Detik demi detik berlalu menghimpun
titik-titik keberanian yang berserak di palung kalbu lalu kususun dalam
bait-bait puisi yang akhirnya ku kirimkan padamu agar bisa di muat di media
online yang kamu kenalkan padaku.dengan harapan butir-butir keberanian yang
tengah berusaha aku kumpulkan bisa membawaku dalam ranah kebebasan
mengekspresikan diri melalui tulisan-tulisanku yang sekarang ku biarkan
memenuhi memori laptopku. Ranah digital yang ingin kusukai dan kukenali lebih
dalam lagi.
Puisi yang kutulis memang hanya luapan pikiran, perasaan
dan harapan dengan imajinasi yang kubiarkan sedikit berkembang. Tanpa dasar
teori tentang tulis-menulis apalagi sentuhan pengetahuan tentang ilmu bahasa
dan kesusastraan. “tidak perlu kebanyakan teori, langsung praktek saja....”
begitu katamu waktu itu saat aku berusaha meminjam buku yang pernah kamu
rekomendasikan padaku.
Puisi demi puisi pun terlahir. Jauh dari kata bagus apalagi
jika dibandingkan dengan karya sastrawan ternama seperti WS Rendra, Chairil
Anwar atau Taufik Ismail yang terkenal dengan keelokan bahasa dan kedalaman
makna syair-syairnya. Namun satu hal yang tidak ingin aku lewatkan yaitu
membagi semua puisi itu denganmu sebagai ungkapan terima ksihku atas semangat
dan inspirasi yang kamu berikan hingga aku tidak pernah berhenti menulis meski
sampai sekarang keberanianku untuk menyunting sendiri tulisan-tulisanku itu
belum juga hadir. Bahkan untuk menyuntingnya di blog pribadi yang pernah kubuat
atas saranmu pun belum berani.
Aku iri pada orang-orang sepertimu yang bisa dengan mudah
bertukar pendapat dalam sebuah forum online hingga berkelakar lepas tentang
topik-topik hangat yang beredar luas di masyarakat. “aku ingin ada di sana tapi
rasanya seperti menjadi diriku yang lain....” tulisku padamu dalam pesan
singkat melalui ponselku usai membuka akun jejaring sosial milikku.
Aku senang kamu pernah membariku kesempatan dan ruang untuk
menampilkan karyaku hingga aku merasa nyaman membagi pikiran, pengalaman dan
semua perasaan yang aku rasakan. Aku tidak ingin menjadi diriku yang lain. Aku
hanya mencoba melatih diri menjadi diriku yang berbeda dari sebelumnya. Diriku
yang tidak hanya bisa membaca tulisan orang lain dan tidak hanya nyaman dengan
one to one person communication.
Waktu terus bergulir. Membolak-balikkan hati yang tidak
pernah berhenti mencari titik-titik keberanian yang ingin kugali. Hari ini aku
mencoba menyunting sebuah catatan dalam akun jejaring sosial milikku ditengah
carut-marutnya suntingan baru yang membuatku blingsatan. Sebuah puisi yang
kubuat pertengahan maret lalu yang kupilih menjadi suntingan pertamaku dan
pernah aku bagi denganmu melalui ponselku. Aku berharap semua yang kulakukan
hari ini menjadi awal dari diriku yang berbeda. Tapi, semakin jauh aku memasuki
ranah digital itu semakin kuat rasa kehilanganmu menjeratku. Mengubur semua keberanianku
untuk meraihmu. Aku merasa tertinggal
jauh dibelakangmu hingga langkahmu tak sanggup lagi kurengkuh. Aku
kehilanganmu......
Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu aku sangat merindukanku
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karena saat itu aku tak berada disampingmu
Puisi berjudul hilang itu kembali terngiang ditelingaku,
mencabik tumpukan mimpi yang memenuhi ruang hati. Pedih, perih bercampur
menjadi satu di dalam dadaku. Perlahan kuusap butiran bening yang meleleh di
sudut-sudut mataku seraya menghela nafas panjangku dalam-dalam. Mencoba melepas
sesak yang menghimpit jiwa dan rasa melalui hembusan nafas yang ku keluarkan.
“what’s lost can not be found...?????” gumamku pelan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar